Per Tahun Seribu Kasus Baru di Banten
SERANG-Kasus penularan HIV di Banten masih terus mengalami kenaikan. Dalam lima tahun terakhir ditemukan kasus baru lebih dari seribu Orang Dengan HIV/Aids (ODHA) per tahunnya.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten yang diterima Radar Banten, setiap tahun kasus baru ditemukan merata di delapan kabupaten/kota.
Bila pada tahun 2018 tercatat 1.344 kasus baru, tahun 2019 meningkat menjadi 1.789 kasus. Sementara pada 2020 tercatat ada 1.572 kasus baru, dan tahun 2021 ada 1.367 kasus.
“Sementara untuk tahun 2022, periode Januari-Maret sudah ditemukan 458 kasus baru,” kata Kepala Dinkes Banten Ati Pramudji Hastuti kepada wartawan, kemarin.
Ia melanjutkan, pada tahun 2021 kasus HIV terbanyak di wilayah Tangerang Raya. Dari 1.367 kasus, terbanyak di Kabupaten Tangerang dengan 462 kasus, disusul Kota Tangerang 313 kasus, Kota Tangsel 194 kasus, Kabupaten Serang 149 kasus.
Berikutnya Kabupaten Lebak 91 kasus, Kabupaten Pandeglang 61 kasus, Kota Cilegon 61 kasus, dan Kota Serang 36 kasus.
“Sejak 1998 hingga Maret 2022, tercatat ada 13.670 kasus HIV/Aids di Banten,” tutur Ati.
Tingginya penularan kasus HIV di Banten, lanjut Ati, disebabkan banyak faktor, mulai dari penggunaan jarum Napza suntik, hubungan heteroseksual, hingga homoseksual.
“Dalam lima tahun terakhir, kasus penularan HIV di Banten didominasi perilaku penyimpangan seksual khususnya homoseksual,” tegasnya.
Masih dikatakan Ati, sebelum tahun 2000 penderita HIV paling banyak ditemukan dari kalangan pengguna narkotika suntik. Namun, belakangan ini bergeser kasus tersebut didominasi oleh orang yang berperilaku seks bebas.
“Kemudian perilaku biseksual ini juga banyak, homoseksual juga, yang dari narkotikanya sudah turun jauh,” bebernya.
Untuk menekan penularan HIV, pihaknya saat ini terus meningkatkan akses layanan masyarakat terhadap mereka yang memiliki risiko terpapar HIV, terutama terhadap kelompok homoseksual. Salah satu upaya yang dilaksanakan adalah tes HIV terhadap orang yang perilaku seks menyimpang.
“Kemudian kita dekatkan pengobatan layanan kita tambah semua akses layanan ini tersebar di 8 kabupaten/kota,” urainya.
Selain itu, tambah Ati, dalam menangani kasus HIV, Dinkes Banten juga telah berkolaborasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Baik itu dari KPA provinsi ataupun KPA kabupaten kota se-Provinsi Banten.
“Dinkes melakukan langkah preventif dengan screening dan mengobati. Sementara KPA membantu untuk menyosialisasikan dan lain sebagainya,” jelasnya.
Menurut Ati, penyakit HIV harus terus ditangani karena bisa menyebabkan kematian terhadap penderitanya.
“Kalau tidak diobati, bisa mengakibatkan kematian. Tapi kalo dia diobati dan terus mengakses layanan, itu layaknya orang sehat, bisa hidup survive,” pungkasnya.
Terpisah, Ketua Komisi V DPRD Banten Yeremia Mendrofa mengaku prihatin dengan tingginya kasus penularan HIV di Banten.
“Disaat Banten fokus menangani stunting, ternyata penularan HIV di Banten juga semakin genting,” katanya.
Yeremi meminta para orang tua harus lebih ekstra dalam mengawasi pergaulan putra-putrinya, jangan sampai terjerumus pada penyalahgunaan narkoba dan seks bebas.
“Kuncinya dari pengawasan di lingkungan keluarga,” pungkasnya. (den/nda)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
