DECEMBER 9, 2022
Cilegon

Harga Bumbu Dapur Bikin Menjerit

post-img

CILEGON - Harga komponen bumbu dapur seperti cabai rawit merah, cabai keriting, bawang merah, tomat dan sayur mayur di Kota Cilegon alami kenaikan.

Kondisi itu pun membuat para pedagang komoditas tersebut serta pedagang makanan siap saji menjerit.

Diketahui, saat ini cabai rawit merah dijual Rp110 ribu dari harga sebelum­nya Rp60 ribu, cabai merah keriting dijual Rp85 ribu dari harga sebelumnya Rp35 ribu, bawang merah Rp60 ribu dari harga sebelumnya Rp35 ribu dan tomat Rp16 ribu dari harga sebelumnya Rp10 ribu. 

Sementara jenis sayur-sayuran seperti sawi putih mengalami kenaikan seharga Rp15 ribu dari sebelumnya Rp10 ribu, kangkung seharga Rp5 ribu dari sebelumnya Rp2 ribu, dan kol seharga Rp15 ribu dari sebelumnya Rp7 ribu. 

Salah seorang pedagang Entang Soja (55) mengatakan, kenaikan harga itu telah berlangsung sekitar dua bulan. 

“Ini udah pasti berat bagi pedagang, ka­lau mahal otomatis yang beli ber­kurang,” ujarnya, Jumat (17/5).

Hal senada juga disampaikan peda­gang lainnya, Satiri (40). Ia mengung­kapkan, lantaran harga komoditas pangan mengalami kenaikan menye­babkan dagangannya sepi pembeli. 

“Sebelum naik ramai terus. Pulang tuh bawa uang, ini mah boro-boro bawa uang modalnya aja kadang gak nyampe, banyak yg rugi,” ujarnya. 

Sebelum harga naik, stok barang bisa habis dalam satu hari, saat ini bisa dua hingga tiga hari agar barang tersebut bisa terjual.

Keluh kesah pun disampaikan oleh pengusaha warteg di Kota Cilegon akibat kenaikan harga tersebut.

Agung Prasetyo, pemilik warteg Putra Bahari di Jalan Letjen R Suprapto, Kelurahan Ramanuju, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon menjelaskan akibat kenaikan harga bahan-bahan pangan tersebut sering kali ia merasa dilema. Pasalnya, meski harga sejum­lah bahan pangan terutama untuk bumbu-bumbu mengalami kenaikan, namun harga makanan yang dijual tak bisa ia naikkan atau dikurangi porsinya. 

“Terus terang saja sangat berpe­ngaruh, Mas. Kalau dibilang kita bersyukur mah kita bersyukur, masih alhamdulillah kalau buat muter mah, tapi kalau bicara untung itu tipis. Kita belanja 60 persen, pendapatan 40 persen sedangkan daya beli stan­dar,” ujarnya.

Tak ingin terus-terusan merugi di tengah kenaikan harga bahan-bahan pangan di pasaran, Agung mensiasati penggunaan bumbu untuk masakan di warung makannya. 

“Kalau untuk ibaratnya mengakali semua ini paling bumbu aja kita kurang-kurangin, di-pres secukupnya. Misal kita biasa beli cabai sekilo ini biar gimana caranya bisa sampai dua hari. Tapi praktiknya biasanya kita pakai cabai basah itu sehari sekilo,” ujarnya. 

Lantaran penggunaan cabai basah untuk masakan di warung makannya dirasa lebih boros, Agung beralih menggunakan cabai kering untuk bumbu masakannya. 

“Kita mengakalinya pakai cabai kering, kalau cabai kering itu kan sekilonya 110 tapi untuk cabe kering pemakaiannya bisa sampai 4 hari,” ucapnya. 

Meski dari segi penggunaannya cukup hemat, Agung mengaku tak ingin terus-terusan menggunakan cabai kering yang secara kualitas tidak seperti cabai basah biasanya. 

Menanggapi hal tersebut, Kepala UPTD Pasar Kranggot Cilegon Aceng Syarifuddin mengungkapkan bahwa penyebab kenaikan harga komoditas pangan itu karena biaya transportasi.

“Kedua, karena ketersediaan barangnya dan yang ketiga karena mendekati perayaan hari besar agama, Idul Adha,” ungkapnya. 

Karena salah satu penyebab kenaikan harga itu ketersediaan barang yang minim, Aceng mengaku telah men­dorong para agen untuk memper­banyak jumlah barangnya. 

“Kita sudah mendorong para agen untuk memperbanyak ketersediaan barangnya, agar mudah-mudahan segera stabil,” ujarnya. (bam/air)