Entah bagaimana rasanya jadi seorang Sri (31) nama samaran, yang dipaksa cerai dengan suaminya, sebut saja Jali (34) oleh orang tua.
Perlakuan kasar Jali terhadap Sri, membuat orangtua ikut emosi dan memaksa adanya perceraian. Tapi Jali menolak sebelum Sri menyetujui penjualan rumah yang sudah diberikan orang tua Sri untuk putri kesayangan mereka itu.
“Bapak saya minta pisah, tapi Kang Jali neken terus, dia pengen saya jual rumah, padahal itu rumah pemberian orangtua saya,” keluh Sri saat curhat pada Radar Banten di kediamannya di Kecamatan Purwakarta, Cilegon, Sabtu (16/7).
Polemik rumah tangga Sri viral di kalangan masyarakat kampung, orang-orang banyak yang mengutuk sikap Jali yang sewena-wena terhadap Sri.
Gosip panas ini dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut, sampai-sampai pengurus RT setempat ikut turun tangan berupaya membantu menyelesaikan perkara ini.
Sri bercerita, ia pertama kali mengenal Jali dari temannya. Waktu itu Sri tak bisa menolak saat Jali mengajak kenalan, setelah itu mereka intens berkomunikasi.
“Sebenarnya waktu itu temen juga udah ngingetin supaya jangan terlalu deket sama Jali, tapi susah, sayanya terlanjur jatuh cinta,” akunya.
Sikap Jali yang lembut dan perhatian, ternyata hanya umpan untuk memikat Sri. Setelah resmi pacaran, tiga bulan kemudian Jali langsung mengajak ke pelaminan. Makin giranglah Sri.
Mereka menikah dengan pesta mewah, orangtua Sri yang punya banyak aset tanah dan sawah, rela menghabiskan uang demi membahagiakan putri bontot mereka.
Di awal rumah tangga, Jali yang waktu itu bekerja sebagai karyawan swasta menunjukkan sikap yang baik. Pada orangtua pun sopan dan terlihat sangat menyayangi.
“Lagi ibu saya sakit dia nemenin di RS, bahkan pas udah sembuhnya juga dibawain makanan dan buah,” tuturnya.
Tak hanya itu, perlakuannya terhadap Sri pun sangatlah baik, Sri diperlakukan seperti ratu, kasih sayangnya begitu memabukkan. Sri merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.
“Saya sering curhat ke ibu kalau Kang Jali sangat baik, hal itu membuat keluarganya senang,” ungkapnya.
Karena tahu Sri merasa bahagia berumahtangga dengan Jali, pihak keluarga sepakat untuk membangun rumah untuk Sri dan Jali, namun tetap dengan atas nama Sri.
Belum genap setahun, rumah itu jadi dan sudah ditempati mereka berdua. Tapi sejak saat itulah, Jali mulai menunjukkan sikap aslinya, kasar, suka membentak, dan egois.
“Saya sempat hamil tiga bulan, tapi karena stres jadi keguguran,” akunya.
Tak lama, jeleknya sikap Jali itu mulai diketahui keluarga Sri. Keributan mulai terjadi, polemik itu semakin membesar hingga akhirnya keluarga Sri melaporkan Jali ke pihak kepolisian.
“Pas dibawa ke ranah hukum, baru Kang Jali mulai enggak ribut soal penjualan rumah lagi,” katanya.
Mereka pun resmi bercerai, Sri kini menjanda namun melanjutkan studinya di Jakarta. (drp/alt)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
