DECEMBER 9, 2022
Utama

Itulah Kadar Ilmu Mereka

post-img

Oleh: Fauzul Iman

KALIMAT di atas merupakan sindiran Tuhan pada kaum musyrikin yang tiada henti mencerca ciptaan Tuhan yang ghaib (Q.S. 53 : 27-30 ). Kaum mus­y­ri­­kin mencerca ma­­lai­kat dengan se­butan perem­puan. Mereka juga tidak percaya pada adanya akhirat.

Perilaku inilah yang dinilai Tuhan ka­dar ilmu kaum musy­rik sangat dang­kal (tidak da­lam). Wahbah Zu­haeli dalam kitab At-Tafsir Al- Munir fi al-Aqidah wa Al- Sari’ah wa Al- Manhaj men­jelaskan batas ilmu mereka hanyalah monotonisme pada duniawi belaka.

Dunia ditangkap oleh nalar mereka sebagai benda yang telah tersedia, dapat dilihat dan langsung dirasakan nikmat dan tidaknya. Sementara akhirat pernyataan Tuhan belaka dan hingga kini tidak pernah dilihat wu­judnya/barangnya.

Nalar simpel ini tidak akan berdaya mem­benarkan dengan kokoh bila dihadap­kan dengan bertumpuknya misteri dunia yang tidak pernah terbaca sebelumnya. Misteri dunia yang tak terjangkau dan tak terditeksi nalar itu seringkali membuat ke­kalutan manusia tak bertepi.

Ada kalanya semua kasat mata dunia yang sudah direncanakan demikian matang. Tak terkecuali seluruh jenis stategi di­kerahkan untuk melakukan suatu pro­gram. Dipastikan program itu mustahil mengalami kegagalan. Kenyataannya di luar jangkauan terjadi kegagalan yang sangat nestapa.

Tampaknya inilah dunia penuh misteri yang tidak mudah dicerna oleh mablagnya ilmu kaum musyrikin yang menurut me­reka dunia merupakan benda kongkrit yang gampang diraba dan dinikmati. Pada akhirnya manusia membutuhkan cakrawala pengetahuan yang berwawasan metafisika untuk mencerna dunia yang penuh misteri itu.

Cakrawala pengetahuan metafisika akan menunjukkan bahwa dibalik misteri dunia ini ada kekuatan Yang Maha Hebat di luar kekuasaan manusia yang menciptakan dunia ini. Al-Quran menyebutnya sebagai ilmu yakin sedang kaum musyrikin dipandang Quran memilki sebatas ilmu zon/dugaan yang sedikitpun tidak mem­bawa faedah kebenaran ( Q.S. 53 : 28).

Sayyed Hossein Nasr dalam bukunnya Man and Nature : The Spritual Crisis of Modern Man mengungkapkan kelemahan/problem manusia modern yang mencintai alam / dunia sebagai entitas tersendiri tanpa menyadari adanya kekuatan yang mengontrol dan memelihara keteraturan alam / dunia.

Manusia modern, demikian Nasr, men­cintai alam/dunia bagai mencintai pekerja sek. Usai menumpahkan syahwati libido kepada alam/dunia mereka begitu saja tinggalkan tanpa pertanggungjawaban pemeliharaan dan pengelolaan sebgai potensi sumber kehidupan manusia.

Perilaku ini, lanjut Nasr menjadi ironis me­reka mencintai alam/dunia tidak me­restorasi melainkan mengalam keka­lutan panjang saat alam/ dunia mengalami bencana ekologi seperti saat dunia terjadi kekeringan sumber daya alam, bahaya climate change dan lain lain.

Inilah kadar ilmu yang melihat dunia se­bagai bendawi simbolik yang amat la­hiri. Menurutnya gampang diraba, dinikmati dan dimiliki secara berkebebasan. Kenyataannya mereka terjebak sendiri pada ranjau-ranjau mistreri yang menda­tangkan ketakutan nestapa.

Firman Tuhan menyingkap sejarah umat manusia yang terhipnotis dengan jebakan simbolitas lahiri dunia. Mereka saat itu mengalami kekalutan dan ketakutan yang sangat tragis melihat simbol lahirinya Kerajaan Adi Daya Persia yang sangat kuat dan dipandang akan mengalahkan Kerajaan Romawi.

Dugaan simbolik itu ternyata keliru karena yang meraih kemengan adalah Kerajaan Romawi yang selama ini tidak pernah diduga simbolitas lhirinya akan meraih kemenangan. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia ; sedangkan (kehidupan) akhirat mereka lalai” ( Q.S. 30 : 7). Wallahu A’lam. (*)

Prof. Dr. H. Fauzul Iman, MA, Mantan Rektor UIN SMH Banten

#fadhil