DECEMBER 9, 2022
Bisnis - Peluang Usaha

Jaring Wirausaha Dari Kampus

post-img

CIREBON - Kementerian Koperasi dan UKM berupaya menjaring dan mencetak lebih banyak wirausaha dari kampus melalui inkubator usaha yang dikembangkan di lingkungan kampus.

Karena itu, MenKopUKM Teten Masduki meminta kampus di Indonesia memiliki kurikulum yang mendidik mahasiswa-mahasiswanya untuk menjadi wirausaha muda dengan menciptakan lapangan kerja.

“Sehingga bukan lagi sebagai pencari kerja melalui inkubator usaha di kampus,” kata MenKopUKM Teten Masduki saat memberikan pembekalan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bagi Dosen dan Mahasiswa Universitas Muham­madiyah Cirebon (UMC), Young Entrepreneur Wanted di Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/7). Dalam kesempatan tersebut hadir Rektor UMC Arif Nurrudin, anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron, serta ratusan mahasiswa UMC.

Teten dikutip dari keterangan reminya mengatakan, Cirebon menjadi salah satu kawasan yang memiliki banyak sentra UMKM. Untuk itu, sudah selayaknya banyak wirausaha lahir dari Kota Udang ini. Seiring dengan hal tersebut, Pemerintah juga sedang menyiapkan program Sejuta Wirausaha Mapan baru dalam rangka meningkatkan rasio kewirausahaan nasional.

Diketahui, rasio kewirausahaan Indonesia baru mencapai 3,18 persen. Di mana untuk menjadi negara maju setidaknya rasio kewira­usahaan harus mencapai minimal empat persen. 

Menteri Teten mengatakan, KemenKopUKM saat ini berkeliling kampus di Indonesia, untuk menyiapkan mahasiswa sebagai pencipta kerja. Salah satunya yang sudah berjalan adalah, kerja sama antara KemenKopUKM dengan Universitas Prasetya Mulia. Mahasiswa yang turun di lingkungan masyarakat lewat kuliah kerja nyata (KKN) ke desa-desa, mem­bantu pelaku UMKM untuk memperbaiki kemasan dan menyusun business plan.

Dari pengalaman itu, kata Teten, selain berdampak menambah pengetahuan UMKM dalam mengembangkan bisnisnya, ternyata banyak mahasiswa setelah KKN justru mempunyai ide bisnis. Untuk itu katanya, penting bagi kampus dalam menyiapkan inkubator mahasiswa. 

“Kami ingin menciptakan wirausaha yang punya jiwa kompetitif. Terutama berbasis SDM berkualitas supaya produk UMKM tak kalah bersaing,” ujarnya.

Menurutnya, setiap tahun, ada sekitar 1,7 juta sarjana baru yang mencari kerja. Sementara total angkatan kerja baru mencapai 3,5 juta sarjana baru na­mun yang terserap hanya 2 juta sar­jana. Mengingat pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen, setiap 1 persennya hanya mampu menyerap 400 ribu pekerja. Sisanya jika tak ingin jadi pengganguran harus mulai menyiapkan kurikulum untuk enter­preneur

“Lapangan pekerjaan sebesar 90 persen disiapkan oleh UMKM. Syukur alhamdulillah, dari survei sekitar 73 persen anak-anak muda tak ingin jadi pegawai mereka ingin jadi pengusaha. Untuk itu, harus diubah kurikulum di kampus jangan mencetak pegawai tapi cetak pengusaha, inkubator siapkan menjadi pelaku usaha,” kata nya.

Melalui penerapan kurikulum kampus merdeka saat ini, kata Menteri Teten, mahasiswa diharapkan dapat hadir di tengah-tengah masyarakat terutama untuk menjadi seseorang yang kreatif, adaptif, dan mampu membantu memecahkan permasalahan di tengah masyarakat (Kemdikbud, 2021).

Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron mengatakan, Komisi VI berkomitmen untuk mendukung upaya kementerian dalam mendorong Sejuta Wirausaha Mapan baru dari kampus. UMKM sebagaimana kehadirannya berhubungan langsung dengan hajat hidup masyarakat. (bie)