DECEMBER 9, 2022
Utama

MUI Imbau Warga Waspadai Orang Asing

post-img

TINJAU: Sekretaris MUI Kota Serang Amas Tadjuddin (Kemeja putih) saat meninjau Makam Syeikh Abdul Rozak, di Perumahan Visenda, Kelurahan Kaligandu, Kecamatan Serang, belum lama ini. (dok radar banten)

Dampak Fenomena Mengaku Titisan Nabi

Maraknya fenomena kemunculannya aliran sesat, membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten mengimbau kepada masyarakat untuk waspada terhadap orang asing dengan ajaran yang tak biasa. Apabila menemukan ajarang yang aneh, masyarakat diharap segera melaporkan ke MUI.

KETUA MUI Banten KH Tb Hamdi Ma’ani mengatakan, adanya fenomena yang mengaku titisan nabi merupakan hal yang bisa saja timbul di masyarakat. “Tapi, masyarakat juga harus waspada agar tak tersesat dengan selalu mewas­padai jika ada orang asing yang meng­ajarkan hal yang tidak biasa,” tegas Hamdi, Senin (18/7).

Seperti diketahui, kemunculan aliran atau ajaran yang diduga sesat belakangan ber­munculan di Banten. Pada 2021, muncul ajaran sesat hakekok balakasuta di Kabupaten Pandeglang. Di Kabupaten Pandeglang juga pernah muncul aliran Hakdzat dimana mereka melaksanakan salat sunah dengan mengikuti 4 arah mata angin. Lalu belum lama ini, muncul seorang pria berinisial NT yang mengaku sebagai Dewa Matahari.

NT melarang warga untuk salat hingga menghina Nabi Muhammad SAW. Polisi bertindak cepat dan menahan NT yang belakangan diduga mengalami gangguan jiwa. Tak berselang lama, muncul sosok pria bernama Harimbi di Kota Serang yang mengaku sebagai titisan Nabi Khidir.  

Hamdi mengimbau agar warga hati-hati apabila ada orang asing yang meng­ajarkan yang asing. Ia menekankan, ke­pada masyarakat jika menemukan adanya orang asing dengan gelagat se­perti itu untuk segera mengambil tindakan.

“Segera konfirmasi dengan MUI baik pihak kecamatan maupun kabupaten,” teg­asnya. Kata dia, fenomena-fenomena itu bisa saja terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya bisa timbul karena keimanan yang masih lemah. 

Terkait kemunculan sosok yang meng­aku titisan Nabi Khidir sudah ditangani oleh MUI Kota Serang. Saat ini, yang ber­sangkutan sedang dibina. “Namanya juga manusia, ya mungkin yang nilai keimanannya belum mak­simal,” tuturnya

Sementara untuk kasus pria yang meng­aku sebagai Dewa Matahari, ia meng­aku, pihaknya masih menunggu konfirmasi dari MUI Kabupaten Lebak. Sejauh ini pihaknya belum memberikan fatwa aliran sesat atau sebaliknya untuk kasus tersebut.

Pada kesempatan itu, Hamdi juga meng­ajak MUI kabupaten/kota bisa terus berperan aktif dalam mengayomi masyarakat untuk menghindari hal-hal de­mikian. Selain itu, pihaknya juga men­g­imbau untuk memperlakukan de­­ngan baik seluruh masyarakat, ter­masuk mereka yang terindirikasi me­nyebarkan aliran sesat.

Sementara itu, Akademisi Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin atau UIN SMH Banten Bazari Syam meminta, masyarakat hendaknya tidak langsung percaya dan menelan mentah-mentah klaim seseorang bila berkaitan dengan sesuatu yang gaib. Lantaran bisa jadi kemampuan seseorang dalam hal gaib bukan berasal dari Allah SWT melainkan dari setan.

Kata dia, semakin orang hebat maka semakin berusaha menutupi kemam­puannya agar tidak diketahui orang. (nna/air)

#fadhil