DECEMBER 9, 2022
Kab Serang

Antisipasi Kebakaran di Pesantren

post-img

SERANG - Kebakaran pondok pesantren di Kabupaten Serang kembali terjadi. Sejak awal tahun sedikitnya sudah ada empat pondok pesantren yang terbakar.

Sebelumnya, kebakaran juga pernah terjadi di beberapa pondok pesantren di wilayah Kabupaten Serang. Di antaranya, Pesantren Tsurayya Darunnajah 4 Kam­pung Colengo, Desa Citasuk, Keca­matan Padarincang pada Rabu 12 Januari 2022.

Kemudian kebakaran juga terjadi di Pesantren Ibtida'atul Qur'an Desa Puser, Kecamatan Tirtayasa pada 8 Maret 2022. Lalu juga terjadi di Pondok Pesantren Qiroatul Mubtadiin di Kampung Kadu Marenah, Desa Keramat Laban, Kecamatan Padarincang pada Sabtu 19 Maret 2022.

Terbaru, kebakaran terjadi di Pondok Pesantren Riyadi Hijayah, Desa Malanggah, Kecamatan Tunjungteja pada pukul 14.18 WIB, Kamis (18/8). Penyebab kebakaran dipastikan karena korsleting listrik.

Perangkat Desa Malanggah Saiful Ulum mengatakan, kebakaran terjadi saat santri selesai mengaji. Beruntung, tidak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut.

Ia mengatakan, pesantren yang terbakar merupakan bangunan lantai dua. Lantai pertama merupakan tempat tinggal pengurus pesantren dan lantai dua kobong santri berupa bangunan dari kayu.

"Yang terbakar ini kobong santri di lantai dua, otomatis rumah pengasuhnya juga di lantai pertama ikut terdampak," katanya.

Beruntung, saat kejadian tidak ada santri di dalam kobong. Namun, barang-barang di dalam kobong ludes terbakar. 

Sementara itu, berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, kerugian materil atas kebakaran tersebut mencapai Rp200 juta. Bangunan pesantren mengalami kerusakan berat.

BPBD melaporkan penanganan keba­karan dilakukan dengan mengerahkan mo­bil pemadam dari Damkar Sektro Petir dengan kapasitas 5.000 liter. Kemu­dian juga Damkar dari Markas BPBD di­be­rang­katkan ke lokasi dengan kapasitas 5.500 liter.

Pemadaman dibantu oleh Muspika Tunjungteja, pemerintah desa dan warga. Api berhasil dipadamkan pada pukul 16.10 WIB.

Manajer Krisis Center BPBD Kabupaten Serang Jhoni Efendi mengatakan, keba­karan pesantren pada tahun ini memang beberapa kali terjadi. Semuanya disebab­kan karena korsleting listrik.

Jhoni mengatakan, ada beberapa kondisi yang menjadi faktor kebakaran dari korsleting listrik. Di antaranya, karena penggunaan listrik yang melebihi kapasitas, saluran listrik yang sudah lapuk, hingga penggunaan terminal listrik yang ber­lebihan. "Saluran listrik itu ada masa usianya, kemudian terminal listrik juga tidak boleh berlebihan penggunaannya, seperti rollan digunakan banyak colokan untuk carger handphone," ujarnya.

Pihaknya mengaku sedang gencar-gen­car­nya melakukan sosialisasi ke lembaga pendidikan termasuk pondok pesantren. Terlebih lagi, BNPB sudah mencanangkan program satuan pendidikan aman bencana (SPAB).

Menurutnya, upaya paling efektif untuk mengantisipasi kebakaran yakni kesadaran dari pengelola lembaga pendidikan dengan melakukan pengecekan saluran listrik secara rutin. "Upaya sosialisasi terus kita lakukan supaya dapat mengantisipasi kebakaran di lembaga pendidikan khusus­nya pesantren, sosialisasi ini dilakukan bertahap," ujarnya. (jek)