DECEMBER 9, 2022
Utama

Partai Baru Diprediksi Sulit Bersaing

post-img

Lembaga survei Saiful Mujani Research and Con­sulting (SMRC) me­­nilai peluang partai-partai baru untuk lolos ke Senayan sangat be­rat. Jika pun berhasil men­jadi peserta Pe­milu 2024, partai baru diprediksi akan sulit bersaing. 

Hal itu disampaikan Pendiri SMRC Syaiful Mujani pada program Bedah Politik Peluang Partai-partai Baru yang ditayangkan di kanal YouTube SMRC TV. 

“Dilihat dari tren, secara keseluruhan partai baru untuk lolos ke parlemen cukup berat pada Pemilu 2024. Bukan berarti peluang­nya tidak ada, tapi partai baru perlu kerja ekstra luar biasa dibanding Pemilu se­belum-sebelumnya,” kata Saifull dalam rilis resmi SMRC yang diterima Radar Banten, Jumat (19/8).

Menurut Saiful, sedikitnya ada tiga pra­syarat bagi partai baru untuk mendapatkan dukungan signifikan dari publik agar bisa me­menuhi ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 4 persen, yaitu mo­mentum, basis sosial dan tokoh.

“Persoalannya dari sejumlah partai baru yang berkas pendaftarannya dinyatakan lengkap oleh KPU, semuanya cenderung tidak memenuhi tiga prasyarat itu. Tidak ada momentum, basis sosial cenderung stagnan, dan tidak muncul tokoh baru,” bebernya.

Oleh karena itu, Saiful mengingatkan agar partai baru dapat bersaing dengan partai lama yang memiliki kursi di par­lemen, segera memenuhi ketiga prasyarat yang ia sebutkan.

Ia memaparkan, salah satu alasan agar suatu partai baru mendapatkan dukungan publik adalah adanya momentum. Menurut Saiful, momentum tidak bisa diciptakan. Dia muncul tiba-tiba dalam sejarah. Pada 1999, misalnya, ada momentum krisis ekonomi dan keruntuhan Orde Baru. Ini mo­mentum politik besar yang tidak bisa diulang dan direkayasa begitu saja.

Tahun 1999 adalah momentum bagi PDI Perjuangan, karena keruntuhan Orde Baru identik dengan represi pada PDI pada periode lalu. Sehingga PDIP men­da­patkan suara yang sangat siginifikan (34 persen) dalam sejarah politik Indonesia pada 1999 karena ada momentum.

“Partai politik muncul karena ada mo­men­tum. Dan momentum ini tidak bisa direkayasa,” urainya.

Terkait basis sosiologis, Saiful men­je­laskan, ada 40 partai yang mendaftar ke Pemilu. Jumlah itu tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan Pemilu 1999 saat yang lolos verifikasi KPU dan secara resmi ikut Pemilu ada 48 partai. Dari 48 partai itu, yang mendapatkan suara signi­fikan, hanya 5 partai politik.

Dari semua partai tersebut, menurut Saiful, umumnya mereka memiliki basis yang sama. Basis sosial dari partai politik yang juga biasa disebut sebagai partai massa antara lain adalah basis sosial ke­agamaan, misalnya Nahdlatul Ulama, Mu­hammadiyah, Persis, atau gereja. Partai yang didirikan dengan basis sosial or­ganisasi keagamaan biasa disebut sebagai par­tai sosiologis.

Masih dikatakan Saiful, aspek ketiga yang juga penting bagi partai baru terkait tokoh. Menurutnya, contoh yang paling baik bagaimana tokoh memiliki peran penting dalam pembentukan partai baru adalah kelahiran Partai Demokrat.

“Partai Demokrat saat awal pendiriannya tidak memiliki basis pada Ormas. Namun berhasil mendapat dukungan publik ka­rena tokoh pendirinya (SBY),” bebernya.

Dari 24 parpol yang berkas pendaftarannya lengkap, didominasi oleh partai baru. Adapun yang menarik perhatian publik tentu saja Partai Gelora, Partai Buruh dan Partai Ummat.

Menurut Saiful, Partai Gelora yang di­dirikan oleh tokoh-tokoh eks Partai Keadilan Sejahtera, Anis Matta dan Fahri Hamzah menarik untuk dianalisa. Selama ini, PKS adalah partai yang dinilai cukup terlembagakan atau partai yang men­cer­minkan kolektifitas, dan tidak memiliki tokoh yang sangat menonjol. PKS lebih merupakan sebuah organisasi yang bagus. 

Jika hal itu benar, kata Saiful, maka Anis Matta dan kawan-kawannya mendirikan partai sendiri adalah tindakan yang cukup berani mengambil risiko politik. Harapan mereka adalah akan mengambil suara pecahan PKS. 

“Kalau tesis bahwa PKS adalah partai yang sudah terorganisasi dan terlem­ba­gakan, tidak terikat dengan satu tokoh ter­tentu, maka keluarnya Anis Matta dan kawan-kawan tidak akan memiliki pe­ngaruh pada PKS,” jelas Saiful.

Terkait dengan partai Buruh, Saiful juga menilai bahwa di Indonesia basis sosial ke­agamaan jauh lebih kuat dari basis sosial sekuler. Basis sosial sekuler antara lain, kata dia, adalah organisasi buruh, ne­layan, tani, dan lain-lain. Organisasi ber­basis sosial sekuler ini, menurut Saiful, sangat besar tapi mengapa partai Buruh, Partai Tani, Partai Nelayan yang sebelumnya dibuat tidak pernah mendapat suara sig­ni­fikan.

“Di Indonesia, ada yang namanya Partai Buruh, tapi Golkar juga mengklaim yang mem­perjuangkan aspirasi buruh. Demikian juga PDIP. Karena itu, yang keluar bukan ideo­logi partainya karena semua mengaku mem­perjuangkan hal yang sama,” tambah­nya.

Diakhir paparannya, Saiful menyampai­kan bahwa dari Pemilu 1999 sampai Pemilu 2019, jumlah partai cenderung semakin sedikit. Pada Pemilu 1999, ada 48 partai yang ikut dalam kontestasi namun hanya lima partai mendapat suara di atas 4 per­sen di DPR, kemudian Pemilu 2004 hanya tujuh partai yang lolos ke Senayan. 

Selanjutnya Pemilu 2009 hanya 8 partai. Terus meningkat pada Pemilu 2014 menjadi 10 partai di Senayan. Namun pada Pemilu 2019 menurun karena hanya ada 9 partai. 

“Ini menunjukkan bahwa jumlah partai yang ikut Pemilu semakin sedikit, tapi in­tensitas atau kualitas partai yang sedikit ini untuk menyerap suara semakin baik,” pungkasnya.

Menyikapi prediksi SMRC, Ketua Partai Buruh Provinsi Banten Tukimin menga­takan, pihaknya optimistis bisa melampaui am­bang batas parlemen pada Pemilu 2024, sehingga Partai Buruh bisa lolos ke Senayan.

“Kami optimis bisa di atas 4 persen per­olehan suara nasional. Untuk di Banten kami menargetkan sebanyak 2 kursi DPR RI dari dapil Banten dan 3 kursi Untuk DPRD Banten,” katanya.

Tukimin menambahkan, pihaknya meng­­hormati prediksi SMRC, dan menjadi bahan motivasi bagi Partai Buruh untuk­mem­buktikan diri.

“Namanya juga prediksi, hasilnya bisa benar bisa juga salah. Kami partai buruh khu­susnya di Banten selaku partai baru ingin menjadikan demokrasi di negeri ini berkembang, masyarakat diberikan ba­nyak pilihan, walaupun kami sadar bahwa partai politik lama yang masih ber­potensi untuk meraup suara lebih be­sar dari partai politik baru,” pungkasnya. (den/nda)