DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Kesejahteraan Guru Honorer Madrasah Memprihatinkan

post-img

DIALOG: Kepala Kanwil Kemenag Banten Nanang Fatchurrochman menghadiri acara ngobrol pendidikan Islam di Hotel Bumi Katineung Rangkasbitung, Senin (19/9).(Yusuf/Radar Banten)

LEBAK – Kesejahteraan guru ho­norer madrasah di Kabupaten Lebak dan Pandeglang cukup mem­pri­hatinkan. Hingga saat ini, guru ho­norer madrasah masih ada yang di­bayar Rp50 ribu dan ada juga yang dibayar menggunakan hasil bumi.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Ke­menterian Agama (Kemenag) Banten Nanang Fatchurrochman me­ngakui, kesejahteraan guru ho­norer di Lebak dan Pandeglang cu­kup memprihatinkan. Sehingga, para guru honorer madrasah ter­sebut tidak hanya memikirkan ba­gai­mana cara mendidik dan men­­cerdaskan anak bangsa. Tapi, mereka juga harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup ke­luarga­nya.

”Guru honorer masih kurang se­jahtera, seperti di Lebak dan Pan­deglang masih ada yang diberi honor Rp50 ribu. Bahkan ada yang di­bayar dengan hasil bumi. Ada yang dengan pisang dan lain-lain­nya,” kata Nanang di depan para Kepala Madrasah yang hadir dalam acara Ngobrol Pen­didikan Islam (Ngopi) di Hotel Bumi Katineung Rangkasbitung, Senin (19/9).

Kondisi tersebut menjadi catatan dan pekerjaan rumah (PR) Kemen­terian Agama agar ke depan ke­se­jahteraan guru honorer madrasah dapat terus meningkat. Sehingga me­reka fokus dalam menjalankan tugas, yakni mencerdaskan anak bang­sa di daerah. 

”Artinya begini, itu harus menjadi catatan bersama bahwa tugas dan tang­gung jawab pendidikan ini bukan hanya pemerintah tapi juga tang­gung jawab kita bersama. Kita bersama-sama untuk membangun keber­samaan itu dalam rangka mening­katkan kualitas pendidikan,” ujarnya. 

Namun, Ia mengapresiasi guru ma­drasah di Banten, karena di te­ngah keterbatasan honor yang di­terima, madrasah di Banten, yakni MAN Insan Cendekia Serpong telah berhasil menjuarai nilai UTBK ter­tinggi di Indonesia.

”Ini luar biasa, maka mari kita ber­sama-sama meningkatkan kua­litas pendidikan di negeri ini,” kata­nya.

Selain tentang honor, para guru madra­sah juga mengeluhkan sisten rek­rumen tenaga Pegawai Pemerin­tah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang hanya mengakomodir tenaga honorer yang bekerja di madrasah negeri. Sementara, guru honorer yang mengajar di madrasah swasta tidak didata.

”Kesempatan itu hanya dibuka untuk guru honorer di madrasah ne­­geri saja, sedangkan swasta tidak. Untuk itu, kita harap ke depan, pe­­merintah juga ikut memper­hatikan guru honorer di madrasah swasta,” kata Ahmad Furqon, salah satu guru madrasah di Lebak.

Anggota Komisi VIII DPR RI Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya me­ngaku, akan menyampaikan as­pirasi tentang kesejahteraan guru honorer kepada Menteri Agama di Jakarta.

”Kemarin kita rapat dengan Ke­menag tentang anggaran. Kami pun bertanya-tanya bagaimana nasib guru-guru honorer yang kalau mau menjadi PPPK. Gus Men­teri waktu itu menjawab, kami siap. Tapi Insya­allah saya akan te­rus perjuang­kan aspirasi dari para guru ini,” ungkap­nya.

Selain itu, Putra mantan Bupati Le­­­bak ini juga mendorong pe­me­­rintah untuk menambah alokasi ang­garan untuk sektor pendidikan aga­ma. Karena masih banyak mad­­rasah di daerah yang kon­di­sinya ru­sak dan butuh perhatian lebih.

”Saya ingin membawa aspirasi dari acara ngobrol pendidikan Is­lam ini. Kemenag harus lebih di­per­ha­tikan lagi, diperhatikan dalam sisi ang­garan tentunya karena kita ingin meningkatkan kualitas pen­didikan agama Islam di daerah ki­ta masing-masing,” pungkasnya.(mg-02/tur)