DECEMBER 9, 2022
Love Story - Inspirasi

No Problem Dibully Asal Enggak Dimarahi Istri

post-img

Nikah muda memang berat tantangannya, begitulah yang dialami Udin (24), nama sa­maran. Ia lebih memilih dibully teman daripada dimarahi istri, sebut saja namanya Siti (23). 

Ditemui Radar Banten di salah satu warung di Kecamatan Ciruas, Selasa (21/6) siang, Udin tampak sedang membereskan barang dagangannya berupa tanaman hias dari plastik. Ketika diajak mengobrol, ia antusias menceritakan kisahnya.

Udin mengawali kisahnya dengan membakar sebatang rokok yang terselip di bibirnya. Matanya memejam, lalu dihembuskannya asap ke udara. Lelaki bertubuh tinggi besar itu mulai berbicara.

Katanya, kalau bukan karena cinta dan tuntutan keluarga, ia sebenarnya masih ingin menun­da pernikahan barang dua tahun lagi sampai sudah punya pekerja­an tetap. ”Tapi sudah enggak bisa ditunda lagi, kondisinya sudah beda,” kata Udin.

Soalnya, Udin yang humble dan pandai bergaul, punya banyak teman dan menjadi sosok yang disenangi teman-teman. Di setiap tongkrongan, pasti tak akan asyik kalau tak ada Udin.

Apalagi, hubungannya dengan Siti memang sudah terlalu dalam. Ia pacaran sejak SMA kelas satu, selama masa sekolah, keduanya sering kemana mana berdua. Hubungan dengan kedua keluarga pun sudah sangat dekat.

Kata Udin, Siti sosok perempuan yang baik, taat beribadah, cerdas, dan rajin. Ia juga sangat menerapkan nilai-nilai syariah dalam berhubungan. ”Selama pacaran tuh, saya enggak pernah ngapa-ngapain dia,” katanya.

Udin sendiri lumayan tampan, wajahnya kalem dan sikapnya juga pendiam. Keluarganya juga sebenarnya tak begitu susah, ayahnya punya usaha jualan sembako. Tapi Udin tak mau memanfaatkan keluarga, ia ingin hidup mandiri. 

Singkat cerita, ketika lulus SMA, ke­luarga Siti mulai meminta ke­jelas­an pada Udin soal hu­bungan mereka. Waktu itu Udin belum siap jika harus menikah, ia mengatakan itu pada keluarga Siti. ”Akhirnya saya dikasih waktu setahun buat persiapan segala macem,” ungkapnya.

Setahun itu Udin mencari kerja, tapi tak dapat-dapat. Sampai akhirnya ia dimodali membuka usaha oleh bapaknya. Meski masih merintis, tapi Udin yakin bisa menafkahi istri.

Maka setelah tokonya buka, ia langsung merencanakan pernikahan. Proses lamaran hingga ke pelaminan pun berjalan lancar, meski dengan pesta sederhana, namun keduanya tampak bahagia.

Di awal rumah tangga, semua tampak tak ada masalah. Tapi setiap kali Udin pamit mau kete­mu teman-teman, pasti dila­rang istri. Terpaksa ia hanya bisa mendekam di kamar, be­sok­nya sudah harus membuka toko.

Bahkan, pernah satu malam, saat Udin diam-diam pergi ketemu teman-teman di tempat tongkrongan, ponselnya tak pernah berhenti berdering. Tapi tak pernah diangkat, Udin asyik ngobrol dan melepas rindu bersama teman-temannya.

Sampai akhirnya, Siti datang mencak-mencak, memarahi Udin di depan teman-temannya. Sejak itulah Udin mulai sering dibully, setiap kali bertemu temannya pasti selalu jadi bahan ledekan. ”Biarinlah saya dibully, yang penting rumah tangga saya har­mo­nis. Kan sekarang mah ada istri, teman hidup saya ya istri, teman hanya sekedar teman,” pungkasnya. (drp)