DECEMBER 9, 2022
Bisnis - Peluang Usaha

Pertamina Lakukan Penghematan Rp32 Triliun

post-img

JAKARTA - Pertamina melakukan efisiensi atau penghematan biaya operasional hingga 2,2 miliar dollar Amerika Serikat atau setara dengan Rp32 triliun. Triliunan efisiensi tersebut diperoleh dari program penghematan biaya (cost saving) Rp20 triliun, penghindaran biaya (cost avoidance) Rp5 triliun, serta tambahan pendapatan (eevenue growth) sekitar Rp7 triliun.

“Dengan efisiensi, kami bisa bertahan di tengah dinamika global yang unpredictable dan mempersembahkan laba bersih Rp29,3 triliun di tahun 2021” ujar Heppy Wulansari, Pj Vice President Corporate Communication Pertamina, Senin (21/6), dikutip dari siaran pers.

Di sektor hulu yang menerima windfall profit dari tingginya harga Indonesia Crude Price (ICP), lanjut Heppy, Pertamina mampu melakukan optimasi biaya produksi dan services melalui serangkaian terobosan mulai dari budget tolerance profile, optimasi intervensi sumur, hingga penghematan konsumsi chemical dan penggunaan bahan bakar. Jurus ini berbuah penghematan Rp6,2 triliun atau lebih tinggi 10 persen dari target Rp5,6 triliun.

Heppy menuturkan, pada proses pengadaan minyak mentah dan produk, Pertamina menerapkan optimasi biaya pengadaan Medium Crude melalui aktivitas blending Heavy & Light Crude, Renegosiasi alpha, advance procurement, pembelian distress cargo, co-load delivery, dan extensive delivery date range, dan optimasi portofolio impor LPG (multisource, direct sourcing dan trading swap). 

“Meski rumit, tapi hasilnya ciamik dengan menekan biaya hingga Rp2,8 triliun,” ungkapnya.

Lalu, sektor pengangkutan dan distribusi energi, optimasi biaya juga menuai ganjaran positif sebesar Rp4,1 triliun dengan trik, antara lain perubahan pola suplai crude dan produk, perubahan rute dan jenis kapal, optimasi bunker, optimasi pola supply logistic serta optimasi biaya distribusi, handling dan storage dan renegosiasi tarif alur pelayaran, renegosiasi tanker charter rate, dan lain-lain.

Heppy melanjutkan, pada belanja pengadaan dan perawatan non hydro, perseroan membukukan penghematan biaya Rp3,4 triliun dengan metode sentralisasi pengadaan, renegosiasi kontrak jangka panjang dan penurunan konsumsi barang/jasa. Lainnya, penyempurnaan program pemeliharaan melalui peningkatan TKDN dan reprioritasi aktivitas pemeliharaan peralatan kilang. (bie)