DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Revitalisasi Menara Air Rp900 Juta

post-img

LEBAK - Dinas Kebudayaan dan Pari­wisata (Disbudpar) Lebak berencana untuk me­lakukan revitalisasi menara air atau Water­toren. Anggaran untuk revi­ta­lisasi menara air di Jalan RT Hardi­winangun, Rangkasbitung Rp900 juta.

Watertoren tersebut merupakan bangun­an ber­sejarah dan masuk dalam cagar bu­daya. Menara air ini dibangun pada masa kolonial Belanda, yakni pada 1.931.

Usep Suparno, Kepala Bidang Destinasi pada Disbudpar Lebak mengatakan, da­lam re­vitalisasi itu pihaknya akan menata ulang kawasan watertoren menjadi lebih indah. Bahkan dapat menjadi destinasi hingga ikon baru di pusat Kota Rangkas­bitung.

“Jadi revitalisasi tersebut merupakan bagian dari City Branding untuk Kota Rangakasbitung. Yang ingin kita sampaikan, di Rangkasbitung bukan hanya ada Mu­seum Multatuli saja tetapi ada juga Water­toren,” katanya saat di­temui Radar Banten di ruang kerjanya, ke­marin.

Saat ini, Disbudpar tengah menunggu arahan dari Bupati untuk memulai re­vi­talisasi cagar budaya tersebut. Untuk pem­bangunan akan dimulai tahun ini, namun pihaknya masih belum tentukan waktu­nya karena masih menunggu arahan dari pim­pinan.

Kabupaten Lebak, kata Usep, memiliki ba­nyak cagar budaya bekas peninggalan zaman kolonial Belanda, seperti Museum Multatuli, pabrik minyak di Rangkasbitung yang dulunya pernah menjadi pabrik minyak terbesar se-Asia Tenggara dan cagar budaya lainnya.

“Kita secara bertahap akan menghidupkan satu per satu cagar budaya itu agar dapat men­j­adi destinasi baru hingga dapat men­­dukung visi Bupati, yakni Menjadikan Lebak Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasis Potensi Lokal,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Museum Multatuli pada Disbudpar Lebak Ubaidillah Mochtar menjelaskan, watertoren memiliki keting­gian 9 meter. Dulu menara air ini digunakan se­bagai bak penampungan untuk menya­lur­kan air bersih bagi warga Rangkasbitung.

“Jadi Watertoren artinya bak penampung yang digunakan sebagai tempat menyalur­kan air bersih dan air minum bagi warga Rangkas­bitung pada zamannya,” terangnya.

Untuk sumber airnya sendiri diambil lang­­sung dari Kabupaten Pandeglang, t­e­patnya di kaki Gunungkarang dan se­lanjutnya di­sa­lurkan menggunakan pipa yang diarahkan lang­sung ke Rangkasbitung.

“Watertoren yang sama juga ada di Ke­camatan Warunggunung yang digunakan se­­bagai bak pengontrol untuk penyaluran air bersih ke Kabupaten Lebak. Nanti itu ju­ga akan kita revitalisasi,” pungkasnya.(mg-02-nce/tur)