Divonis: Suasana pembacaan putusan kasus penyuapan PJT terhadap mantan pejabat pada Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Cukai Tipe C Soekarno Hatta (Soetta) Vincentius Istiko Murtiadji di Pengadilan Tipikor Serang, Senin (8/8). (fahmi/radar banten)
Vonis Kasus Suap Pejabat Bea Cukai Inkrah
SERANG-Hukuman terhadap mantan Kasi Pelayanan Pabean dan Cukai I pada Bidang Pelayanan dan Fasilitas Umum Ditjen Bea Cukai Tipe C Soekarno Hatta (Soetta) Vincentius Istiko Murtiadji dinyatakan inkrah atau berkekuatan hukum tetap. Sementara mantan Kepala Bidang Pelayanan Fasilitas Pabean pada Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Dan Cukai Type C Soekarno-Hatta, Qurnia Ahmad Bukhori menyatakan banding.
"Sudah inkrah, kami tidak banding," ungkap sumber Radar Banten di Kejati Banten, Minggu (21/8).
Senin (8/8) lalu, Vincentius dijatuhi pidana tiga tahun dan enam bulan penjara, dan denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Serang yang diketuai Slamet Widodo.
Vincentius dinyatakan terbukti bersalah menerima suap bersama mantan Qurnia Ahmad Bukhori. "Untuk terdakwa satunya (Qurnia Ahmad Bukhori-red) kami banding," ungkapnya.
Vincentius dan Qurnia dianggap telah melanggar Pasal 11 jo Pasal 18 UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 64 ayat (1) KUH Pidana jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana. "Sebagaimana dalam dakwaan subsider," kata Slamet Widodo, beberapa waktu lalu.
Dijelaskan Slamet, perkara penyuapan tersebut berawal pada Mei 2020 lalu. Ketika itu, Qurnia mengusulkan kepada pimpinannya Finari Fanan untuk memberikan teguran keras kepada perusahaan jasa titipan (PJT) PT Sinergi Karya Kharisma (SKK) melalui PT Shopee Indonesia. Pengusulan surat teguran keras tersebut karena ada 40 dokumen consignment note (CN) yang tidak sesuai.
Menindaklanjuti adanya puluhan dokumen yang tidak sesuai tersebut kemudian dilayangkan surat kepada PT SKK. "Saksi Arif Agus Harsono selalu direktur utama PT SKK melakukan klarifikasi dengan berupaya bertemu dengan saksi Finari Manan melalui pengajuan permintaan audiensi," kata Slamet.
Namun, keinginan Arif Agus Harsono untuk bertemu dengan Finari Manan tidak dapat dilakukan. Sebab, petugas piket pusat layanan informasi mengarahkan untuk bertemu dengan Qurnia. Setelah membuat janji, Arif Agus Harsono dan saksi Syamsul Syah Alam selaku komisaris utama PT SKK bertemu dengan terdakwa Qurnia.
Saat pertemuan berlangsung, kedua petinggi di PT SKK tersebut menjelaskan persoalan status barang yang dipertanyakan oleh Qurnia. "Pada saat yang sama, terdakwa Vincentius Istiko Murtiadji berdiri di depan pintu dan menyapa saksi Arif Agus Harsono yang telah mengenalnya pada waktu pengurusan izin PJT (perusahaan jasa titipan-red)," ungkap Slamet.
Setelah pertemuan antara Qurnia dan dua pimpinan perusahaan PT SKK berakhir, sore harinya Istiko menghubungi Arif Agus Harsono. Melalui sambungan telepon itu, Istiko meminta untuk diadakan pertemuan kembali. Sebab, Istiko mengatakan masih ada yang perlu dibicarakan.
Selanjutnya, pada hari Selasa 26 Mei 2022, Vincentius bertemu dengan Arif Agus Harsono dan Rudi Sutamto (pengurus PT SKK). Dalam pertemuan tersebut, Istiko menyampaikan pesan dari Qurnia. Isi pesannya, Qurnia siap membantu melancarkan persoalan PT SKK. Namun, Qurnia meminta syarat permintaan uang senilai Rp5 ribu dari setiap satu kilogram barang impor yang dibawa PT SKK.
Agus yang mendengar permintaan itu menyampaikan keberatan. Ia lalu menawar Rp1000 perkilogram. "Arif Agus Harsono keberatan dan meminta Rp1000 perkilogram," kata anggota majelis hakim Novalinda Arianti membacakan uraian putusan.
Novalinda mengatakan, setelah adanya kesepakatan tersebut, PT SKK sejak Mei hingga Desember 2020 telah menyerahkan uang dengan total Rp3,1 miliar. "(Penyerahan uang-red) sebanyak 13 kali," ujar Novalinda dalam sidang yang dihadiri JPU Kejati Banten Subardi.
Dikatakan Novalinda, selain menyerahkan uang Rp3,1 miliar lebih, Istiko pernah menerima uang Rp250 juta dari PT SKK. Uang tersebut diberikan PT SKK terkena karena terkena denda Rp1,6 miliar dan ijin penimbunan sementara habis. Untuk mengurangi denda dan ancaman tempat pembekuan sementara (TPS) maka PT SKK menyanggupi pemberian uang Rp250 juta tersebut.
Selain uang dari PT SKK, Istiko juga menerima uang dari PT ESL senilai Rp80 juta. Uang tersebut diterima pada Januari hingga Februari 2021. PT ESL memberikan uang tersebut karena diminta Qurnia melalui Istiko dengan alasan perhitungan tonase barang kiriman setiap bulannya. "(Penyuapan-red) dengan total seluruhnya Rp3.517.000.000," tutur Novalinda. (fam/nda)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
