DECEMBER 9, 2022
Hukrim

Balapan Liar, Bertaruh Nyawa demi Rp1 Juta

post-img

BERBAHAYA: Dua joki bersiap belapan liar di Jalan Raya Rangkasbitung-Pandeglang, beberapa waktu lalu. Mereka melakukannya tanpa helm. 


LEBAK – Balapan liar meresah­kan pengguna jalan. Tak terkecuali di Jalan Raya Rangkasbitung-Pan­­deglang. Balapan liar ini men­­jadi ajang judi. Memper­ta­ruh­kan nyawa dan uang hingga Rp1 juta.

Fakta itu terungkap setelah 10 pe­laku balap liar di Jalan Rang­kas­bitung-Pandeglang diamankan oleh anggota Polsek Cibadak pa­da Minggu dini hari (20/10). Ke-10 pelaku balap liar diamankan an­tara pukul 00.15 WIB hingga pukul 02.00 WIB.

Kapolsek Cibadak Inspektur Polisi Satu (Iptu) Tatang Suhendar mem­benarkan jika ke-10 pelaku balap liar diamankan karena tin­da­kan mereka telah lama me­re­sahkan warga sekitar, terutama peng­guna jalan.

“Kami membawa 10 pelaku be­r­ikut kendaraan mereka ke Mar­kas Polsek Cibadak. Kami juga memanggil orangtua mereka. Dari hasil identifikasi, beberapa pe­laku masih berstatus pelajar, se­mentara yang lain sudah putus se­kolah,” ungkap Tatang tidak me­nyebut identitas ke-10 pelaku balap liar karena masih di bawah umur.

Untuk mencegah balap liar, Ta­tang menyatakan, pihaknya akan meningkatkan patroli. “Kami akan terus meningkatkan patroli untuk mencegah gangguan ke­ama­nan dan ketertiban masyara­kat, termasuk tawuran remaja dan balap liar yang sangat mere­sah­kan,” tegasnya.

Keresahan warga akibat balapan liar di Jalan Raya Rangkasbitung-Pan­deglang diungkapkan oleh Jam­hari. Menurutnya, aksi para pe­muda tersebut sangat meresah­kan dan membahayakan karena joki tidak memakai helm, serta mem­bahayakan pengendara ken­daraan lainnya yang melintas Ja­lan Raya Rangkasbitung–Pan­deglang.

“Jalan raya ini digunakan oleh banyak kendaraan, baik roda dua, roda empat, bahkan truk be­sar. Balapan liar sangat meng­gang­gu pengguna jalan, dan se­pertinya polisi tidak ada yang ber­tugas untuk menertibkannya,” ujarnya kepada Radar Banten.

Senada disampaikan Ari Ri­yan­to, warga Cibadak. Ia menyam­paikan kekhawatiran yang sama dan berharap kepada pihak ber­we­nang untuk melakukan patroli di jalan tersebut. 

Ia resah melihat puluhan remaja yang berkumpul dan balapan liar pada malam hingga dini hari. Pe­rilaku anak-anak itu mem­ba­ha­ya­kan pengguna jalan lainnya.

“Mereka balapan berkelompok, dan itu sangat mengganggu. Kami ta­kut ada kecelakaan atau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Sa­ya berharap Satlantas Polres Le­bak segera mengambil tindakan tegas terhadap pelaku balap liar ini,” tukas Ari.

Salah seorang pelaku balap liar yang enggan disebutkan namanya m­engakui jika balapan liar dila­ku­kan berkelompok. Balapan liar itu menjadi ajang perjudian. 

“Saya sekali turun itu untuk ta­ruhan mulai Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Untuk taruhan tergan­tung harganya, tergantung pemilik mo­tor,” ujarnya.

Lelaki yang berprofesi sebagai me­kanik motor ini akan mendapat bayaran dari pemilik motor yang me­menangkan balapan liar. Nilai uang yang diterima mekanik motor tergantung dari pemilik mo­tor sebagai pemodal. “Tergan­tung yang punya motor, ada yang mem­beri Rp200 ribu. Untuk joki ba­lap dikasih Rp300 ribu sampai Rp400 ribu, jadi gimana yang pu­nya motor,” katanya.

Balapan liar itu, menurutnya, di­lakukan pada hari Sabtu dan Minggu malam, tergantung kese­pa­katan dari kedua belah pihak yang berkomunikasi melalui What­sApp dan Instagram. (mg-05/don)