DECEMBER 9, 2022
Bisnis - Peluang Usaha

Jadi Kiblat Fesyen Muslim Harus Tercapai

post-img

JAKARTA - Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan berharap target Indonesia sebagai kiblat fesyen muslim dunia pada 2024 bisa tercapai. Hal itu sebagai­mana arahan Presiden Joko Widodo. 

Kini Masyarakat diajak untuk semakin menggaungkan tren fesyen muslim di pasar dalam negeri sehingga semakin memantapkan industri fesyen muslim dan modest fashion Indonesia.

Hal disampaikan Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) saat menerima per­wakilan penyelenggara Indonesia Modest Fashion Week (IMFW) pada Kamis (21/7). 

“Kami mendukung betul upaya-upaya menyemarakkan tren fesyen muslim dan modest fashion. Tujuan kita jelas, yaitu menjadikan Indonesia kiblat fesyen muslim dunia tahun 2024. Kementerian Perdagangan dapat mendukung ekspor fesyen muslim Indonesia lewat berbagai skema kerja sama perdagangan dengan negara mitra,” kata Mendag Zulkifli Hasan dikutip dari siaran pers, kemarin.

Mendag Zulhas juga mendukung penyelenggaraan IMFW 2022 dan akan menggerakkan 46 kantor perwakilan perdagangan di luar negeri untuk mempromosikan acara tersebut agar semakin banyak peserta yang bergabung.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia merupakan eksportir pakaian muslim peringkat 13 dunia pada 2021. Indonesia mengekspor pakaian muslim pada 2021 sebesar 4,68 miliar dollar AS atau naik 12,49 persen dibandingkan tahun 2020 yang sebesar 4,16 miliar dollar AS . Sementara itu, nilai ekspor pakaian muslim pada periode Januari–Mei 2022 sebesar 2,35 miliar dollar AS atau naik 41,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang sebesar 1,66 miliar dollar AS. Negaranegara tujuan ekspor utama pakaian muslim Indonesia adalah Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Korea, dan Kanada.

“Produk-produk fesyen muslim dalam negeri memiliki kualitas yang sangat baik. Produk-produk ini berpotensi dan mampu bersaing dengan produk-produk fesyen muslim dan modest fashion dari negara-negara lain,” kata Mendag Zulhas.

Pada bagian lain, Mendag Zulhas menilai, kesadaran masyarakat terhadap fesyen kian hari kian terlihat. Contohnya fenomena Citayam Fashion Week. 

Menurutnya, Citayam Fashion Week menjadi sinyal bahwa fesyen menjadi semakin inklusif dan diminati berbagai kalangan. Untuk itu ia berharap inklusivitas fesyen muslim tecermin dalam acara-acara peragaan busana IMFW. Hal ini juga sebagai cara untuk semakin mengukuh­kan industri fesyen muslim dengan menggaet semakin banyak lapisan masyarakat.

“Citayam Fashion Week menunjukkan pada kita bahwa fesyen dapat diekspresikan oleh siapa saja. Kita kemudian menyadari bahwa sifat inklusivitas ini juga dimiliki oleh fesyen muslim. IMFW dapat mendorong inklusivitas ini dengan menggaet anak muda penikmat fesyen agar diarahkan untuk mencintai fesyen muslim dan modest fashion,” ungkapnya. (bie)