DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Siswi SMP Derita Tumor Ganas

post-img

TUMOR GANAS: Egis, siswi SMPN 2 Warunggunung menderita tumor ganas dan kini terbaring lemas di rumahnya, Senin (22/8).(yusuf Permana/Radar Banten)

LEBAK - Egis Falillah (14), siswi SMP Negeri 2 Warunggunung menderita penyakit tumor ga­nas pada bagian mulutnya. Ia kini hanya bisa ter­baring lemas di dalam rumahnya yang berada di Kampung Parungsari, Desa Sindangsari, Warunggunung.

Pantauan Radar Banten di lokasi, kondisi Egis cu­kup memprihatinkan, tubuhnya kurus kering dengan berat badan hanya mencapai 20 kilogram. Rahang Egis membengkak akibat tumor yang terus bertambah parah hingga menutupi sebagian wajahnya. 

Ibu Egis, Murtiah bercerita bahwa kondisi ter­sebut sudah diderita anaknya sejak 6 bulan yang lalu. Awalnya, Egis yang kini duduk di bangku kelas 3 SMP itu hanya mengalami sakit gigi.  

“Awalnya anak saya sakit gigi, terus giginya co­pot sendiri. Udah itu tiba-tiba Egis ngeluh sa­kit gusi, dikira sakit biasa saja. Tapi semakin hari semakin membengkak,” kata Murtiah saat di­temui Radar Banten di rumahnya, Senin (22/8).

Melihat kondisi anaknya yang makin parah, Murtiah pun membawa Egis ke puskesmas dan dokter gigi setempat. Setelah diperiksa, ditemukan adanya benjolan pada bagian gusi sebesar telur burung puyuh. Egis pun dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Adjidarmo Rangkasbitung dan selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum di Kabupaten Tangerang.

“Egis dirujuk ke Rumah Sakit Tangerang karena di RSUD dr Adjidarmo nggak ada alatnya. Untuk itu, kita rujuk, di sana (Rumah Sakit Tangerang-red) anak saya diperiksa di CT Scan dan pemeriksa­an lain-lainnya. Nah hasil dari pemeriksaan itu dokter mengatakan bahwa Egis menderita penyakit tumor ganas,” ujarnya. 

Namun, karena keterbataan alat yang dimiliki pihak rumah sakit di Tangerang, Egis pun kembali di rujuk ke RSCM di Jakarta. 

“Hasil dari CT Scan dokter menemukan tumor ganas yang sudah mencapai jaringan otak. Di sana, dokter mengaku tidak bisa menangani karena keterbatasan peralatan, akhirnya anak saya dirujuk ke RSCM,” terangnya. 

Di RSCM, kata Murtiah, Egis kembali menjalani berbagai rangkaian tes termasuk CTScan dan pengujian sampel darah. Hal itu membuat Egis yang berobat menggunakan BPJS kesehatan tidak kunjung mendapatkan penanganan medis. 

“Saya sudah 3 bulan, sudah belasan kali ke RSCM, tapi masih saja belum ada hasil. Belum ada penangan­an, hanya dikasih obat-obatan pereda nyeri saja, “ timpal Evin Nuriski, kaka kandung Egis. 

Kata Evin, selama ini Egis yang merupakan anak bungsu dari 7 bersaudara kondisinya terus mem­buruk. Bahkan, Ia kehilangan banyak berat badan karena kesulitan untuk makan dan minum. Ia me­nga­kui, selama mengurusi pengobatan adik­nya, pihak keluarga mengalami keterbatasan ekonomi. 

“Kita sempat ditawari buat tinggal di rumah singgah di Jakarta, tapi gimana ya. Kalau kita di sana, makan kita dari mana sedangkan biaya hidup di sana enggak murah,” ungkapnya. 

Dirinya pun berharap agar adiknya ini bisa mendapatkan pengobatan medis, karena kondisi Egis yang terus parah setiap harinya. 

“Adik saya ini sudah tidak bisa sekolah selama 6 bulan, kondisinya juga makin parah. Buat makan saja nggak bisa, harus disuapi. Kadang itu juga di­muntahin lagi, jadi saya harap pihak rumah sakit bisa cepat-cepat melakukan penangan­an medis kepada adik saya, “ harapnya.(mg-02/tur)