DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Produksi Beras Surplus 75.169 Ton

post-img

PANEN: Kepala Dinas Pertanian Lebak Rahmat Yuniar meninjau panen raya di Bayah Timur, Kecamatan Bayah, kemarin. (Dok Distan Lebak)

LEBAK - Dinas Pertanian (Distan) Ka­bupaten Lebak mencatat produksi be­ras mengalami surplus atau kelebihan pro­duksi untuk periode 2022.

Berdasarkan data dari Distan, hingga Agustus 2022 produksi padi dalam bentuk beras telah mencapai 223.666 ton. Padahal kebutuhan beras untuk satu tahun hanya 148.497 ton. Ini artinya mengalami surplus hingga 75.169 ton

“Alhamdulilah, untuk kebutuhan beras sampai akhir tahun 2022 ini telah tercapai alias surplus dari hasil panen padi di Lebak sampai Agustus saja. Hasil produksi beras sampai Agustus mencapai 223.666 ton dari kebutuhan beras 148.497 ton per tahun,” kata Kepala Distan Lebak Rahmat Yuniar kepada Radar Banten, Kamis (22/9).

Menurut Rahmat, setiap tahunnya pro­duksi beras melebihi rata-rata nasional. Setiap tahun, produksi mengalami surplus walaupun pernah terdampak pandemi dua tahun lalu.

Khusus untuk tahun 2022 ini, Rahmat mem­prediksi akan mengalami surplus yang sangat besar karena masih ada lagi periode panen hingga akhir tahun.

“Tentunya, surplus beras yang dihasilkan petani akan meningkat karena petani ma­sih akan panen. Saat ini petani di Le­bak sudah mulai tanam padi dengan usia tanam 90-100 hari,” jelasnya.

Untuk memenuhi ketahanan pangan, pi­haknya akan terus mendorong pening­katan produksi karena Lebak merupakan daerah lumbung pangan di Provinsi Banten. 

“Kami juga berharap petugas penyuluh lapang (PPL) pertanian dan mantri tani desa terus membantu petani untuk men­dong­krak produksi pangan,” ungkapnya.

Sekretaris Distan Kabupaten Lebak Iman Nurjaman menambahkan, dengan pola tanam serempak dan penggunaan pupuk organik, petani di daerah dapat menikmati hasil panen yang memuaskan. Diketahui, dari satu hektare sawah, petani kini dapat memproduksi gabah sebanyak 7 – 8 ton.

“Tentunya, dengan kondisi tersebut jauh berbeda dengan hasil panen petani yang mengandalkan pupuk non organik yang hanya mendapatkan hasil gabah sebanyak 3-4 ton per hektare,” katanya.

Untuk sentra tanam terluas di Lebak ter­sebar di enam kecamatan, meliputi Wanasalam, Malingping, Cibeber, Cipanas, Panggarangan, dan Cilograng.

“Keenam kecamatan itu selama ini cukup diandalkan dan menjadi sentra produksi padi terbesar di Lebak,” ujarnya. 

Dia mengatakan, produksi padi di Lebak masih sangat potensial untuk terus diting­katkan baik melalui strategi pening­katan produktivitas maupun strategi peningkatan indeks pertanaman. (nce/tur)