DECEMBER 9, 2022
Trendy

Berburu Barang Branded di Medsos

post-img

Mendapatkan barang idaman, lebih lebih branded dengan cara mengikuti lelang di platform media sosial (medsos) seperti Facebook dan Instagram kini sedang banyak digandrungi orang.


Selain bisa berpeluang mendapatkan harga miring dari pasaran atau platform belanja online, berburu barang melalui lelang pun dinilai memberikan sensasi lain. Bahkan bagi para buyer (pembeli) dan seller (penjual), mengikuti kegiatan bisnis ini memerlukan seni.


Yap! Ada berbagai trik yang biasa dilakukan baik oleh seller maupun buyer pada setiap lelang. Trik trik itu lah yang dianggap sebagai seni dalam lelang.


Lalu, barang apa yang biasa dilelang? Kebanyakan adalah fashion item seperti jam tangan, tas, sepatu, dan pakaian. Ada juga perhiasan seperti batu cincin, atau berbagai barang seperti korek api zippo dan barang antik.


Seorang remaja asal Kota Cilegon, Krisna, mengaku sudah lama mengikuti trend lelang barang di media social. Ia lebih sering mengikuti aktivitas itu di Facebook. Barang yang kerap ia cari adalah jam tangan. Ia mengaku sudah memiliki banyak jam tangan merk Seiko dan G-Shock hasil dari mengikuti lelang.


Seblumnya, ia juga sering mengikuti lelang zippo. Namun saat ini ia sudah jarang mengikuti lelang barang itu. “Sekarang masih sering ikut lelang jam tangan,” ujar Krisna, Kamis (22/9).


Kata Krisna, mayoritas barang yang dilelang adalah barang original. Ada juga sejumlah seller melelang barang imitasi atau kerap disebut KW. Aturan main yang tak tertulis dalam lelang adalah seller wajib mencantumkan informasi tentang produk yang akan dilelang, misalnya kondisi barang tersebut, serta barang original atau KW.


Dalam pasar lelang dikenal juga isitilah clone. Istilah itu untuk sebutan barang yang memiliki akurasi kemiripan yang sangat mendekati dengan barang original. “Nah semua itu harus ditulis di keterangan, gak boleh bohong, misalnya barang clone disebut ori (original),” kata Krisna.


Lelang biasa dilakukan di beranda akun pribadi seller, bukan di forum seperti fanpage atau group. Setelah itu, biasanya beberapa seller membagikan postingan itu di group atau fanpage yang sesuai dengan jenis barang dilelang.


“Itu bergantung masing-masing seller. Tapi meski di share di group misalnya group G-Shock, lelangnya tetap di komentar akun pribadi seller itu,” ujarnya.


Mekanisme yang digunakan sama seperti lelang pada umumnya, dimana seller membuka harga penawaran atau yang disebut Open Bid. Tidak hanya itu, seller pun mencantumkan Next Bid atau tawaran terendah yang harus diperhatikan buyer.


Misalnya, jika sebuah jam tangan memiliki Open Bid sebesar Rp1.500.000, dan Next Bid Rp100 ribu. Maka penawaran yang harus diajukan oleh buyer dimulai dari Rp1.600.000.


Lelang biasanya berlangsung selama 12 jam atau paling lama selama dua hari. Seluruh penawaran diajukan dalam kolom komentar postingan lelang.


Faktor lain yang membuat lelang di medsos ini memerlukan seni adalah mekanisme Sniper Zone. Mekanisme ini adalah memungkinkan buyer yang sebelumnya telah memberikan penawaran kembali memberikan penawaran di beberapa menit akhir jelang lelang ditutup.


Sniper Zone ditentukan oleh seller, misalnya lima menit menjelang lelang berakhir atau tiga menit menjelang lelang berakhir.


“Misalnya, saya ikut lelang, Open Bid satu juta, Next Bid Rp100 ribu, Sniper Zonenya lima menit. Saya yang sebelumnya ngajuin penawaran dikalahkan oleh penawaran buyer yang lain, nah di Sniper Zone itu saya bisa kembali memberikan penawaran lagi dengan nilai minimal 50 persen dari next bid,” papar Krisna.


Setelah lelang berakhir, maka buyer yang dinyatakan sebagai pemenang diumumkan di kolom komentar yang sama tempat lelang berlangsung. Selanjutnya, Buyer dan Seller akan berkomunikasi secara pribadi untuk menentukan mekanisme pembayaran dan pengiriman barang.


Dikatakan Krisna, hal tersebutlah yang membaut lelang di medsos dinilai mengasikan. Selain tidak harus registrasi dan deposit sejumlah uang seperti lelang pada umumnya, lelang melalui medsos pun memungkinkan buyer mendapatkan barang idaman 30 persen lebih murah dibandingkan dengan harga yang dijual di berbagai platform belanja online atau toko offline. (bam/jek)