DECEMBER 9, 2022
Olahraga

Taklukan 4 Juara Dunia, Anthony Dielu-elukan di China

post-img

Empat tahun lalu, pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, mencetak salah satu pencapaian tertinggi dalam kariernya. 

Ada alasan kenapa secercah asa akan kebangkitan tetap hadir ketika Anthony mengalami masa sulit pada pengujung tahun 2021 hingga paruh pertama 2022. Yakni, pembuktian Anthony bahwa dia berada di level yang sama dengan jawara tunggal putra saat ini.

Reputasi sebagai pembunuh raksasa sudah disandang Anthony sejak debutnya di Indonesia Open 2015. Saat itu, usianya masih 18 tahun.

Anthony mengundang decak kagum ketika melaju ke perempat final turnamen level Superseries Premier itu. Pemain jebolan SGS PLN Bandung tersebut lolos ke babak delapan besar dengan mengalahkan jawara India, Kidambi Srikanth, yang menjadi unggulan keempat.

Langkah Anthony akhirnya dihentikan oleh Kento Momota (Jepang) yang akhirnya menjadi juara. Pertandingan ini mengawali rivalitas antara Anthony dengan Momota yang sering disebut dengan MomoGi, Momota-Ginting.

Anthony telah membalas kekalahannya dari Momota sejak Vietnam Open 2015, dua bulan setelah Indonesia Open 2022. Namun, ketika berbicara soal kemenangan Anthony yang paling mengesankan atas Momota adalah final China Open 2018.

Tanggal 23 September 2018, di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, China, Anthony mengalahkan Momota dalam pertandingan yang seru. Per­gerakan cepat dan pe­ngem­balian meni­pu yang telah menjadi ciri khas Anthony mampu membongkar pertahanan kukuh Momota.

Kebangkitan Anthony dari ketertinggalan 14-19 untuk berbalik unggul 23-21 pada gim pertama menjadi kunci. Poin kemenangan pada gim pertama dicetak Anthony dengan impresif.

Penonton, yang sejak awal reli bersorak, memberikan tepuk tangan atas aksi Anthony itu. Komentator resmi BWF, Gillian Clark, menyebutnya, “Benar-benar brilian”.

Anthony memastikan kemenangannya dengan kembali menang pada gim kedua. Laga berakhir dengan skor 23-21, 21-19.

Kesuksesan Anthony menjuarai China Open 2018 makin luar biasa karena dia berangkat sebagai pemain non-unggulan. Risiko melawan pemain besar sejak babak awal turnamen level Super 1000 itu tak membuat pemain berdarah Batak tersebut gentar.

Justru, tinta emas dibukukan Anthony karena dia menjadi kampiun dengan menyingkirkan empat pemain berstatus juara dunia.

Pada babak pertama Anthony mengalahkan salah satu GOAT (Greatest of All Time/terbaik sepanjang masa) di bulu tangkis, Lin Dan (China). Juara dunia lima kali dan juara Olimpiade dua kali tersebut dihentikan Anthony melalui rubber dengan skor 22-24, 21-5, 21-19.

Tren kemenangan Anthony berlanjut ke babak kedua de­ngan me­­nyi­ng­kirkan Viktor Axe­lsen (Denmark) yang menjadi juara dunia tunggal putra pada tahun sebelumnya. Anthony mengalahkan sosok yang kini menjadi rival terbesarnya itu dalam dua gim langsung, 21-18, 21-17.

Anthony tak terhentikan dengan catatan kemenangan atas juara dunia dan Olimpiade Chen Long (China), Chou Tien Chen (Taiwan), dan Kento Momota. Kemenangan atas dua jawara tunggal putra asal China itu tak mengurangi besarnya dukungan kepada Anthony dari pinggir lapangan.

Sorakan “Ginting, jia you!” yang berarti “Ginting, semangat!” terus membahana selama final China Open 2018. Bahkan, Anthony mendapat “surat cinta” dari salah satu relawan China Open 2018.

“Saya banyak belajar dari kamu, kegigihan kamu begitu menyentuh hati saya,” tulis relawan yang memiliki nama Wang Yi Fei. (BS/don)