SERANG – Sejumlah kepala daerah di Banten curhat mengenai tenaga honorer kepada Penjabat Gubernur Banten Al Muktabar. Curhatan itu dilontarkan para kepala daerah ketika sesi tanya jawab usai penandatanganan pakta integritas untuk mewujudkan Provinsi Banten bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di gedung Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Jumat (24/6).
Walikota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie mengatakan, implikasi penghapusan tenaga honorer sangat luas. “Solusi yang ditawarkan oleh Kementerian PAN-RB yaitu berupa alihdaya menjadi tenaga outsourcing untuk beberapa jenis pekerjaan di antaranya satpam, OB, dan sopir. Sedangkan sisanya dialihkan menjadi PPPK,” ujar Benyamin, kemarin.
Kata dia, terkait dengan pengangkatan tenaga honorer menjadi PPPK juga memiliki kendala, seperti kuota terbatas dan seleksinya dilakukan Kementerian PAN-RB. “Ini tentunya akan membuat sebuah blunder karena bagaimanapun jumlah tenaga honorer atau TKS sangat besar,” tuturnya.
Apalagi, lanjut Benyamin, jumlah tenaga honorer di Tangerang Selatan berbanding terbalik dengan jumlah ASN. Untuk itu, ia berharap persoalan ini dapat dipecahkan bersama karena implikasinya bukan hanya dari aspek pelaksanaan kinerja pemerintah, tapi juga aspek hukum, politis, dan aspek-aspek lainnya. “Saya tidak bisa bayangkan harus memberhentikan ribuan tenaga honorer. Sementara ini, kami di Tangerang Selatan belum mengambil sikap dan keputusan apa pun sebelum aturan-aturannya jelas,” tandasnya.
Hal yang sama juga disampaikan Wakil Bupati Lebak Ade Sumardi. “Yang disampaikan Pak MenPAN-RB tidak salah, karena amanat UU. Amanat UU mengatakan lima tahun harus selesai. Kalau dihitung, lima tahun itu adalah jatuhnya tahun depan 2023,” ujarnya.
Namun, lanjut Ade, ada problem di daerah. Jumlah tenaga honorer di Lebak saja ada sekira tujuh ribu orang. “Kalau tujuh ribu tidak difungsikan lagi, kita kolaps. Tidak ada tenaga di semua lini,” tandasnya.
Untuk itu, perlu ada solusi. Ia menawarkan agar ada perubahan peraturan pemerintah. “Perpanjang saja, yang awalnya 2023 menjadi 2025, sehingga ada kesempatan untuk memperbaiki,” ujar Ade.
Kata dia, untuk mengangkat tujuh ribu orang tenaga honorer maka dibutuhkan anggaran sekira Rp300 miliar. “Berarti nyaris tidak berjalan pembangunan. Ini merupakan salah satu solusi. Tinggal kita berikan masukan itu kepada pemerintah pusat,” terangnya.
Sementara itu, Bupati Pandeglang Irna Narulita mengatakan, batas waktu untuk penghapusan tenaga honorer harus ada toleransi. “Setuju saya, saya kunci tidak menerima TKS per hari ini. Tapi sembilan ribu TKS yang ada saat ini bersuara untuk diperjuangkan nasibnya. Itu juga mohon bapak (Penjabat Gubernur Banten-red) sampaikan ke pemerintah pusat,” ujar Irna.
Selain itu, Irna juga menyinggung alokasi anggaran untuk PPPK dan CASN. Tahun 2021 lalu ia senang karena Pandeglang mendapatkan kuota PPPK paling banyak. “Usulan kami ke KemenPAN-RB dapat lima ribu kuota. Kami tepuk tangan dan memperjuangkan TKS dan TKK kami,” tuturnya.
Namun ternyata ketika diangkat menjadi PPPK, anggaran untuk penggajian dibebankan ke pemerintah daerah. “Hal-hal tersebut menjadi dilematis bagi kami. Setelah tsunami ditambah pandemi Covid-19 dua tahun,” lirih Irna.
Menanggapi hal itu, Penjabat Gubernur Banten Al Muktabar mengatakan, Pemprov Banten sedang dalam agenda penuh untuk mencari solusi terkait persoalan tenaga honorer. Beberapa pemikiran telah muncul dan diekstraksi untuk diformulasikan dalam kebijakan yang nanti disampaikan bersama dalam berbagai kesempatan, baik itu oleh Bupati/Walikota atau dirinya sebagai Penjabat Gubernur. “Tentu kita berpikir yang terbaik bagi kita semua karena saudara-saudara kit aitu juga yang sudah mendedikasikan diri dalam waktu yang cukup telah berkontribusi baik secara administratif maupun fisik kepada agenda pemerintah,” ujarnya.
Kata dia, usulan yang menguat adalah merevisi aturan pemerintah. Kemudian beberapa formulasi teknis lainnya. Tenaga medis dan guru ada formula PPPK, sedangkan sopir, tenaga kebersihan, dan sejenisnya dengan skema outsourcing yang sudah berjalan seperti selama ini melalui perantara pihak ketiga.
“Yang kita pikirkan secara teknis adalah tenaga administratif,” ujar Al. Ia mengatakan, ada beberapa pendekatan yang disampaikan, misalnya dengan teknik computer supply. (nna/air)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
