DECEMBER 9, 2022
Bisnis - Peluang Usaha

Indonesia Terancam Resesi

post-img

JAKARTA - Berdasar survei yang rilis Bloomberg, Indonesia berada di peringkat ke-14 dari 15 negara yang terancam resesi. Ancaman resesi itu muncul dengan pro­babilitas sebesar 3 persen.

Di urutan pertama diduduki Srilanka dengan probabilitas mencapai 85 persen. Meskipun kemungkinan resesi Indonesia kecil, kondisi ekonomi sekarang tetap patut diwaspadai.

Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair) Imron Mawardi sarankan dua hal kepada pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Dua hal tersebut berkaitan dengan ketahanan pangan dan keputusan dalam peminjaman utang.

”Jika resesi benar terjadi maka dampaknya ialah masyarakat sulit untuk menjangkau kebutuhan pokok seperti pangan dan energi. Sulitnya memperoleh barang-barang kebutuhan dipengaruhi keter­sediaan yang minim dengan tren harga yang melambung tinggi,” terang Imron dikutip JawaPos.com, Jumat (22/7).

Menurut Imron, kondisi itu dapat diantisipasi dengan cara meningkatkan transportasi masal demi menghemat cadangan energi dan menambah buffer atau cadangan untuk pangan.

”Saya kira yang harus diwaspadai pemerintah ke depan itu adalah pangan dan energi. Itu yang harus diperhatikan. Karena (masa mendatang) ada peningkatan kebutuhan pangan dan energi yang besar sementara produksi energi dan pangan itu boleh dikatakan stag begitu ya. Artinya sulit untuk ditingkatkan yang signifikan,” ujar Imron, pakar ekonomi ini.

Kebijakan pemerintah dalam mengantisi­pasi kenaikan harga energi, sambung Imron, bisa dilakukan dengan cara meningkatkan produksi energi alternatif. Seperti tenaga surya atau meningkatkan transportasi masal untuk menurunkan penggunaan BBM pada kendaraan pribadi.

”Hal itu yang masih mungkin dilakukan, karena selama ini Indonesia masih menjadi importir energi,” ucap Imron.

Kemudian, lanjut Wakil Dekan II Fakultas Teknologi dan Multidisiplin Unair ini, kenaikan tren harga dari pangan dunia perlu dicarikan solusi dengan cara me­nambah buffer atau memperkuat ketahanan pangan sebelum terjadi krisis.

Hal itu penting dilakukan mengingat Indonesia masih cukup tergantung dengan beberapa produk pangan dunia. Ada tren bahwa pangan dunia akan naik, sementara Indonesia cukup tergantung dengan beberapa produk pangan dunia seperti kedelai, jagung, kemudian produksi pangan yang lain yang trennya itu juga akan meningkat.

”Sehingga ini juga harus diantisipasi dengan pemerintah dengan membentuk buffer yang kuat di sana (pangan) termasuk juga padi,” papar Imron.

Imron menjelaskan, pemerintah harus mempertimbangkan betul keputusan sebelum berutang. Dosen fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair itu menyebut, kemampuan dalam membayarkan utang bukan diten­tukan dari rasio uang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi ditentukan dari tax ratio.

”Pemerintah harus memperhitungkan bahwa kemampuan membayar utang pemerintah itu terletak pada tax ratio di mana tax ratio kita itukan hanya sekitar 9 persen dari PDB artinya per 1.000 PDB itu hanya bisa menghasilkan 90 pajak,” jelas Imron. (jpc/bie)