DECEMBER 9, 2022
Utama

Masa Tunggu Indonesia 43 Tahun

post-img

DIALOG: Rombongan tim haji Malaysia berdialog dengan tim Haji Indonesia di PPIH Daerah Kerja Makkah, Kamis (21/7). (Dok. Kemenag)

MUSLIM di Indonesia patut bersyukur soal masa tunggu ibadah haji. Saat ini masa tunggu di Indonesia paling lama yakni 43 tahun untuk kuota 100 persen. 

Sedangkan di Malaysia mencapai 141 tahun.

Namun jika kuota jemaah hanya 50 per­sen maka akan lebih lama lagi. In­donesia 86 tahun dan Malaysia bisa 300 tahun. “Di Malaysia 141 tahun masa tunggu. Kalau kuota 50 persen (seperti tahun ini) masa tunggu bisa hampir 300 tahun,” ujar Dato’ Sri Syed Saleh Syed Abdul Rahman, Ketua Rombongan Haji (Tabung Haji) Malaysia.

Pernyataan Syed Saleh Syed Abdul Rahman ini disampaikan ketika memimpin rombongan tim haji Malaysia berdialog dengan tim Haji Indonesia di PPIH Daerah Kerja Makkah, Kamis. 21 Juli 2022.

Tahun ini Malaysia memberangkatkan 14.600 jemaah. Sedang Indonesia 100.051 jemaah. Jika kuota normal, jemaah yang diberangkat dari Malaysia sebanyak 31 ribu, Indonesia lebih dari 200 ribu.

Selain karena kuota terbatas, lamanya waktu tunggu di Malaysia juga karena aturan ketat yang diterapkan di negara itu. Malaysia misalnya, melarang penderita penyakit tertentu berangkat haji. Bahkan obesitas atau kegemukan juga menjadi salah satu syarat yang pantang dilanggar.

“Ada aturan Body Mass Index (BMI) dihitung 40 ke atas tidak boleh berangkat. 35-40 kalau punya penyakit bawaan juga tidak dibenarkan berangkat,” ujarnya dikutip dari laman Kemenag.

BMI adalah cara menghitung berat badan ideal berdasarkan tinggi dan berat badan dengan menggunakan rumus tertentu. Selain obesitas, calon jemaah yang memiliki penyakit bawaan, seperti kencing manis dan darah tinggi, yang tidak terkontrol juga dilarang berangkat.

Sementara itu, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI Hilman Latief mengatakan, secara umum pelak­sanaan haji di Indonesia dan Malaysia sama. Untuk waktu tunggu, Indonesia lebih beruntung karena mendapatkan kuo­ta lebih besar. Hanya di Indonesia atu­ran untuk jemaah tidak bisa seketat Malaysia. 

“Kami di Indonesia tidak bisa me­nuang­kan kalau berat badan pun ditentukan,” ujar Hilman Latief.

Dalam kesempatan ini, kedua pihak sepakat untuk terus menjalin kerjasama dan saling tukar pendapat demi pelak­sanaan haji yang lebih baik.

Kedua pihak juga sepakat untuk minta kepada Kerajaan Arab Saudi menambah jumlah kuota haji dan disertai penam­bahan fasilitas, khususnya selama puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina. (disway.id/air)