DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Satu Keluarga Tinggal di Gubuk Reyot

post-img

GUBUK REYOT: Kondisi gubuk reyot yang menjadi tempat tinggal Udi dan keluarga di Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, kemarin. (Yusuf/Radar Banten)

LEBAK – Satu keluarga di Parungsari, Desa Sindangsari, Kecamatan Warung­gunung, tinggal di gubuk reyot ber­alaskan tanah. Bahkan, bangunan ber­ukuran 8x2 meter tersebut ter­ancam ambruk dan membahayakan keluarga Udi (41) dan Sanah (36).

Pantauan di lokasi, pasangan suami istri, Udi dan Sanah tinggal bersama empat anaknya di gubuk reyot tersebut. Dinding bangunan hanya terbuat dari anyaman bambu (bilik) dan ber­alaskan tanah. Kondisi gubuk sudah miring dan terancam ambruk. Namun, keluarga tersebut tetap menempatinya untuk tempat berteduh dan istirahat.

Udi mengaku tidak memiliki uang untuk memperbaiki rumah yang ditempatinya. Bahkan untuk makan sehari-hari saja, Udi kesulitan karena hanya berprofesi sebagai pekerja serabutan sehingga pendapatannya tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Bukannya nggak mau perbaiki rumah. Tapi gimana, buat makan saja kita susah. Karena tidak setiap hari saya dapat uang, kalau ada yang bo­cor saya perbaiki. Saya tambal-tam­bal seadanya saja,” kata Udi saat ditemui wartawan di rumahnya, kemarin.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Udi hanya mengandalkan upah dari hasil membajak sawah warga Desa Sindangsari. Sementara istrinya, Sanah mencari penghasilan tambahan dengan menjual berbagai macam sayuran yang ditemukan di sekitaran rumah.

“Alhamdulillah kalau lagi ada kerjaan itu sehari bisa dapat Rp150 ribu. Tapi kalau nggak ada kerjaan, ya kadang kita puasa nahan lapar,” ungkapnya.

Udi menuturkan, atap rumahnya sendiri sudah bocor, sehingga saat hujan turun, rumahnya kebanjiran.

“Kalau hujan deras rumah jadi banjir. Apalagi kalau ada angin kencang. Rumah kadang jadi goyang, kita pun pas­ti ngungsi ke tetangga. Karena ta­kut rumah tiba-tiba roboh dan me­nimpa saya dan keluarga,” tuturnya.

Ia berharap ada bantuan dari Peme­rin­tah Daerah, sehingga rumahnya ter­sebut bisa segera diperbaiki. Dengan be­gitu, maka anak-anak bisa tinggal di rumah dengan aman dan nyaman.

Saepudin, Ketua RT Kampung Pa­rung­sari mengatakan, dirinya sudah melaporkan kondisi keluarga Udi kepada pemerintah desa.

“Saya sebelumnya sudah koordinasi de­ngan pihak desa tetapi memang belum ada lagi tanggapan, terkait be­dah rumah bagi keluarga bapak Udi,” jelasnya.

Sementara itu, Kasi Penyediaan Peru­mahan Dinas Perkimtan Lebak Adang Sutarya menerangkan, kondisi rumah Udi bukan satu-satunya di Kabupaten Lebak. Saat ini, terdapat 40.000 unit yang kondisinya serupa dengan rumah keluarga Udi. Data tersebut didapatkan dari hasil laporan yang terima sejak 2016 hingga 2022.

“Kita akui di Lebak masih ada pulu­han ribu RTLH yang tersebar di 28 ke­camatan. Namun sayang, karena keterbatasan anggaran, kita hanya bisa menangani ratusan RTLH saja setiap tahunnya,” kata Adang.

Tahun ini, kata Adang, pihaknya sudah memperbaiki 300 RTLH yang ter­sebar di 16 desa di 11 kecamatan. Se­tiap rumah mendapatkan bantuan perbaikan Rp15 juta yang berasal dari APBD Lebak.

“Alhamdulillah kita juga tahun ini men­dapatkan bantuan dari Peme­rintah Pusat untuk perbaikan 377 rumah. Nominal yang didapatkannya berbeda, dari APBN setiap RTLH mendapatkan Rp20 juta,” pungkasnya. (mg-02/tur)