GUBUK REYOT: Kondisi gubuk reyot yang menjadi tempat tinggal Udi dan keluarga di Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, kemarin. (Yusuf/Radar Banten)
LEBAK – Satu keluarga di Parungsari, Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, tinggal di gubuk reyot beralaskan tanah. Bahkan, bangunan berukuran 8x2 meter tersebut terancam ambruk dan membahayakan keluarga Udi (41) dan Sanah (36).
Pantauan di lokasi, pasangan suami istri, Udi dan Sanah tinggal bersama empat anaknya di gubuk reyot tersebut. Dinding bangunan hanya terbuat dari anyaman bambu (bilik) dan beralaskan tanah. Kondisi gubuk sudah miring dan terancam ambruk. Namun, keluarga tersebut tetap menempatinya untuk tempat berteduh dan istirahat.
Udi mengaku tidak memiliki uang untuk memperbaiki rumah yang ditempatinya. Bahkan untuk makan sehari-hari saja, Udi kesulitan karena hanya berprofesi sebagai pekerja serabutan sehingga pendapatannya tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Bukannya nggak mau perbaiki rumah. Tapi gimana, buat makan saja kita susah. Karena tidak setiap hari saya dapat uang, kalau ada yang bocor saya perbaiki. Saya tambal-tambal seadanya saja,” kata Udi saat ditemui wartawan di rumahnya, kemarin.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Udi hanya mengandalkan upah dari hasil membajak sawah warga Desa Sindangsari. Sementara istrinya, Sanah mencari penghasilan tambahan dengan menjual berbagai macam sayuran yang ditemukan di sekitaran rumah.
“Alhamdulillah kalau lagi ada kerjaan itu sehari bisa dapat Rp150 ribu. Tapi kalau nggak ada kerjaan, ya kadang kita puasa nahan lapar,” ungkapnya.
Udi menuturkan, atap rumahnya sendiri sudah bocor, sehingga saat hujan turun, rumahnya kebanjiran.
“Kalau hujan deras rumah jadi banjir. Apalagi kalau ada angin kencang. Rumah kadang jadi goyang, kita pun pasti ngungsi ke tetangga. Karena takut rumah tiba-tiba roboh dan menimpa saya dan keluarga,” tuturnya.
Ia berharap ada bantuan dari Pemerintah Daerah, sehingga rumahnya tersebut bisa segera diperbaiki. Dengan begitu, maka anak-anak bisa tinggal di rumah dengan aman dan nyaman.
Saepudin, Ketua RT Kampung Parungsari mengatakan, dirinya sudah melaporkan kondisi keluarga Udi kepada pemerintah desa.
“Saya sebelumnya sudah koordinasi dengan pihak desa tetapi memang belum ada lagi tanggapan, terkait bedah rumah bagi keluarga bapak Udi,” jelasnya.
Sementara itu, Kasi Penyediaan Perumahan Dinas Perkimtan Lebak Adang Sutarya menerangkan, kondisi rumah Udi bukan satu-satunya di Kabupaten Lebak. Saat ini, terdapat 40.000 unit yang kondisinya serupa dengan rumah keluarga Udi. Data tersebut didapatkan dari hasil laporan yang terima sejak 2016 hingga 2022.
“Kita akui di Lebak masih ada puluhan ribu RTLH yang tersebar di 28 kecamatan. Namun sayang, karena keterbatasan anggaran, kita hanya bisa menangani ratusan RTLH saja setiap tahunnya,” kata Adang.
Tahun ini, kata Adang, pihaknya sudah memperbaiki 300 RTLH yang tersebar di 16 desa di 11 kecamatan. Setiap rumah mendapatkan bantuan perbaikan Rp15 juta yang berasal dari APBD Lebak.
“Alhamdulillah kita juga tahun ini mendapatkan bantuan dari Pemerintah Pusat untuk perbaikan 377 rumah. Nominal yang didapatkannya berbeda, dari APBN setiap RTLH mendapatkan Rp20 juta,” pungkasnya. (mg-02/tur)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
