DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Iti Belajar Pengelolaan Geopark ke Gunungkidul

post-img

STUDI BANDING: Bupati Iti Octavia Jayabaya studi banding tentang Geopark ke Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Yogyakarta, Jumat (23/9).(Dok Humas Setda Lebak)

LEBAK - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak menjalin kerja sama dengan Pemkab Gunungkidul, Provinsi Yogyakarta, Jumat (23/9). Di sana, Bupati Iti Octavia Jayabaya dan rombongan belajar pengelolaan Geo­park dan desa wisata di Kabupaten Gu­nung­kidul.

Dalam kunjungan kerja tersebut, Bupati Iti Octavia Jayabaya didampingi Sekda Budi Santoso, Kepala Badan Perencanaan Pe­nelitian dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Virgojanti, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Imam Rismahayadin, dan Asda II Ajis Suhendi. Rombongan dari Lebak diterima Bupati Gunungkidul Su­naryanta.

“Alhamdulilah Pemkab Lebak menye­pa­kati kerja sama dengan Pemkab Gu­nungkidul terkait penyelenggaraan pe­merintahan, pembangunan, dan pengem­bangan potensi daerah,” kata Bupati Iti Octavia Jayabaya dalam keterangan yang diunggah di akun instagram pribadinya, Sabtu (24/9).

Kerja sama ini merupakan bagian dari agenda kunjungan kerja ke salah satu daerah di Provinsi Daerah Istimewa Yogya­karta untuk mempelajari pengelolaan geo­park dan desa wisata di Gunungkidul. 

“Kami disambut langsung oleh Bupati Gu­nungkidul. Pada pertemuan yang ha­ngat ini, kami menyampaikan alasan jauh-jauh dari Lebak sekitar 700 kilometer ke Gunungkidul, tidak lain karena ingin be­lajar bagaimana geopark benar-benar me­njadi jalan baru ekonomi inklusif yang ber­kelanjutan, salah satunya berkat andil besar Pemkab Gunungkidul,” jelasnya.

Hal ini terlihat dari berbagai prestasi yang diperoleh Kabupaten Gunungkidul, baik ditingkat nasional maupun inter­na­sional. Salah satu contohnya, Desa Wisata Nglang­geran yang berhasil meraih peng­hargaan Best Tourism Village 2021 dari UNWTO.

“Kami juga mengikuti sharing sesion terkait strategi dan kebijakan pengem­bangan Gunung Sewu UGGp hingga peran badan pengelola dalam pembinaan ka­wasan Geopark serta benchmark pem­berdayaan ekonomi masyarakat di geosite,” ungkapnya.

Bupati perempuan pertama di Lebak ini mengatakan, ada yang menarik dari per­nyataan Bupati Gunungkidul, yakni pengembangan Geopark adalah pariwisata. Namun jangan tinggalkan karakteristik masyarakat yang hidup dari pertanian dan UMKM, biarkan sektor ini tetap ber­kembang dan pariwisata sebagai alternatif.

“Tentunya hal tersebut sejalan dengan yang terus kami upayakan dalam kebijakan pem­bangunan. Dimana beragam potensi lokal akan dikembangkan secara integratif me­lalui pengembangan sektor pariwisata sebagai leading sectornya. Salah satu imple­men­tasinya, yaitu melalui pengem­bangan Geopark Bayah Dome sehingga dapat ter­wujud Lebak sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasi Potensi Lokal,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Bapelitbangda Lebak Widi Ferdian mengatakan, Pemkab Lebak menargetkan Geopark Bayah Dome ditetapkan Kementerian ESDM sebagai Geopark Nasional. 

“Geopark Bayah Dome belum ditetapkan sebagai Geopark Nasional. Target kita ta­hun 2023 Bayah Dome ditetapkan se­bagai Geopark Nasional,” harapnya. 

Geopark Bayah Dome ini meliputi 12 k­e­camatan di Kabupaten Lebak, yaitu Ke­camatan Sajira, Leuwidamar, Muncang, Cipanas, Sobang, Lebakgedong, Cibeber, Cilongrang, Bayah, Panggarangan, Cihara, dan Malingping.

“Sebagaimana kebijakan arah pem­bangunan kita, tahun ini kita akan me­ning­katkan aksebilitas transportasi ter­utama melalui peningkatan jalan kabupa­ten serta pem­ba­ngunan sarana dan pra­­sa­rana destinasi wi­sata unggulan,” ung­kapnya.(nce/tur)