DECEMBER 9, 2022
Hukrim

Masa Lalu Bikin Hubungan Kacau Balau

post-img

Bayangan indahnya rumah tangga tampaknya cuma bisa jadi khayalan bagi Alek (29), nama samaran. Bagai­ma­na tidak, baru setahun membina mah­ligai dengan Ecih (25), mereka harus bercerai karena Ecih emosian diha­sut oleh mantan. Astaga.

Padahal, kata Alek, hubungannya de­ngan Ecih sudah berlangsung sejak pa­caran. Mereka jadian setelah Ecih ditinggal pergi merantau pacarnya ke Sumatra. Alek yang saat itu sudah siap me­nikah meski hanya bekerja sebagai buruh pabrik biasa, akhirnya berhasil me­yakinkan hati Ecih.

Singkat cerita, dengan modal seadanya, Alek pun menikahi Ecih, kedua keluarga mereka sangat mendukung pernikahan ke­duanya. Mereka tampak bahagia du­duk di pelaminan. “Akhirnya bisa juga merasakan malam pertama, seru ba­nget,” ungkapnya.

Awal rumah tangga, mereka diselimuti kebahagiaan. Alek juga mulai berani menyicil rumah demi memberi kenya­man­an bagi sang istri. “Ya walaupun nyicil, seenggaknya tinggal di rumah sen­diri mah bebas,” akunya.

Hubungannya semakin hari semakin harmonis, apalagi setiap tanggal muda, Alek selalu mengajak Ecih belanja ke mal, jalan-jalan, makan makanan enak di pinggir jalan ataupun kafe. 

Namun prahara mulai datang, mereka tak kunjung diberi momongan. Sejak itulah percikan keributan mulai terasa, Ecih selalu.bersikap emosian pada suami. “Salah dikit aja dia langsung ma­rah,” tukasnya.

Tanpa sepengetahuan Alek, katanya sih, mantan Ecih sudah pulang kampung dan jadi orang kaya baru di kampung. Hasil kerja di Sumatra bisa membuahkan hasil seperti membangun rumah, mem­beli mobil, dan sawah.

Ternyata eh ternyata, Ecih sering ko­mu­nikasi dengan mantannya melalui Whats­App. Sejak itulah ia sering marah-marah, setiap hari ribut terus sampai Alek akhirnya tak tahan saat Ecih me­mi­nta cerai. “Kalau udah minta cerai gitu mah artinya sudah enggak cinta ke saya lagi,” kesalnya.

Alek pun menyetujui permintaan Ecih, mereka bercerai. Tiga bulan setelah itu, Ecih menikah dengan mantannya. Saat itulah Alek mulai sadar kalau Ecih memang masih menyimpan rasa pada man­tannya. “Yaudahlah, emang nasib saya sudah begini,” keluhnya. 

Duh, yang sabar ya, Kang. (Fjr)