OLEH: FAUZUL IMAN
Alquran Kitab
Tak Pernah Malu (1)
Pengakuan lugas Al-Quran pada setiap ungkapan yang diutarakannya merupkan sikap keberanian yang tiada tandingannya.
Boleh jadi, dalam ukuran yang teristimewa, al-Quran merupakan kitab suci yang tak pernah malu mengatakan apa adanya secara terbuka.
Di satu tempat Quran menyebutkan diri-Nya Kitab Agung, Kitab Tertinggi dan Kitab yang datang dari sisi Tuhan Yang Maha Bijaksana. Sementara di tempat lain , Al-Quran tidak menjawab siginifikan tantangan kaum kafir yang meminta kepada Nabi agar diturunkan ayat atau mukjizat badai, hujan batu, atau kebun yang subur bagai memahmurkan layaknya seorang Nabi (Q.S. 17 : 90).
Info al-Quran yang tidak menjawab permintaan hujan batu dari kaum kafir, seakan telah direduksi nilai dan daya kemukjizatannya: Nabi sekaligus Rasul dipandang tak punya nyali di mata publik. Terkait itu, Tuhan sudah pasti di sisi perspektif telah menemukan ketuntasan jawabannya. Namun, Tuhan konsisten dalam pendiriannya menampilkan untuk tidak pernah malu pada kitab suci-Nya yang terkandung segala rupa info terbuka dan tak pernah ditutupi atau diedit sedikitpun (Q.S. 2 : 26 ).
Apa kata sementara umat, Quran disudutkan kitab mitos, dongeng, fiksi romantis, kitab yang mengajarkan kekerasan dan perang. Semua pandangan itu terus bergulir pada posisi paling wajar sejak Quran itu diturunkan hingga sekarang.
Bukankah sejak pesan wahyu diturunkan pada Nabi, tidak sedikit umat yang menuduh Nabi berpenyakit gila dan tukang sihir. Wahyu yang diterima tidak lebih dipandang dongeng/cerita yang didiktekan oleh para nenek moyanngnya dahulu (Q.S. 25 :5 ).
Ketidakpercayaan itu makin tidak putus pada pesan wahyu Al-Quran, saat Nabi tak berdaya menurunkan barang satu ayat pun atas permintaan publik kaum oposan. Sekali lagi, Tuhan tak pernah malu menyikapi kaum oposan ini karena di tempat lain, Tuhan makin hiperbolis menfigurkan sosok Nab diizinkan kawin lebih dari empat didampingi budak-budak yang cantik. Pernikahan dengan mantan istri anak angkatnya, zaid bin Haristah, pun dikukuhkan dari yang selama ini dipandang tabu (Q.S. 33 : 37).
Belum lagi peristiwa paling dramatis sang permaisuri Nabi sendiri, Siti Aisyah, dibeberkan al-Quran menjadi korban berita bohong berupa tuduhan perbuatan bejad dengan sahabat Nabi Sofwan bin Muaththal As-Sulami Az-Zakwani saat mendampingi Rasulullah dalam ekpedisi perang (Q.S. 24 :12). Tidak sampai di sini, kasus lain Nabi pernah ditegur Tuhan atas sikapnya yang lebih mementingkan kaum pembesar/elit yang ingin melakukn pembicaraan khusus dengan Nabi. Sementara Sahabat Nabi sendiri, Abdullah bin Umi Maktum, sosok tua renta, yang sangat serius menghadap Nabi ingin belajar dan mendapat petunjuk agama terkesan diabaikn (Q.S. 80 : 8-10)
Dibalik terdapat info al-Quran yang terkesan “mereduksi” martabat kenabian Muhammad SAW. Tidak demikian di ayat lain, Nabi justru diberi akses wahyu yang memberitakan laporan Hafsah kepada Aisyah dari berita rahasia bersama atas kecemburuan Hafsah terhadap budak perempuan Nabi yang dibawa ke rumahnya (Q.S. 66:3). Padahal Nabi saat itu juga memutuskn untuk mengharamkan budak itu.
Pada puncaknya di gugus ayat-ayat spesifik, Tuhan tidak membiarkan Nabi dari para konspirator yang menggugat kebenaran wahyu. Tuhan menuntun Nabi dengan jawaban cedas , menukik dan sekaligus mematahkna alibinya musuh Nabi yang selama ini selalu memandang wahyu sebagai sihir belaka. Jawaban menukik itu, “ katakan Hai Muhammad bahwa aku tak mampu menurunkan ayat/mujizat bardasarkan nafsuku melainkan semuanya dari Tuhan Ku”.”aku takut melanggar pada Tuhan-Ku (Q.S. 10:15 ).
Betapun kaum yang ingkar ( kafir dan musyrik) itu memaksanya kepada Nabi berulang-ulang untuk menurunkan wahyu di depan mereka, pasti tidak akan dipenuhi Nabi. Wahyu itu sdh turun di hadapan mereka berulang-ulang di zaman Nabi sebelumnya, namun mereka tidak pernah beriman (Q.S. 6:109). Bahkan di masa Nabi SAW yang sudah jelas dirasakan keindahan bahasanya.
Bahasa wahyu yang dirasa aneh dan tidak pernah sebagus itu mendengarnya singgah di hati kaum musyrik, namun tetap saja mereka tidak percaya. Mereka selalu memandang wahyu yang datang pada Nabi itu merupakan sihir belaka.
Prof Dr H Fauzul Iman, MA,
mantan Rektor UIN SMH Banten (*)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
