DECEMBER 9, 2022
Utama

Alquran Kitab Tak Pernah Malu (1)

post-img

OLEH: FAUZUL IMAN

 Alquran Kitab

Tak Pernah Malu (1) 


Pengakuan lugas Al-Quran pada setiap ungkapan yang diutarakannya merupkan sikap ke­­be­ranian yang tia­da tandingannya. 

Boleh jadi, dalam uku­ran yang ter­is­timewa, al-Quran me­rupakan kitab suci yang tak per­nah malu menga­takan apa adanya secara terbuka. 

Di satu tempat Quran menye­but­kan diri-Nya Kitab Agung, Kitab Ter­tinggi dan Kitab yang datang dari sisi Tuhan Yang Maha Bijaksana. Sementara di tempat lain , Al-Quran tidak menjawab siginifikan tantangan kaum kafir yang meminta kepada Nabi agar diturunkan ayat atau mukjizat badai, hujan batu, atau kebun yang subur bagai memahmurkan layaknya seorang Nabi (Q.S. 17 : 90).

Info al-Quran yang tidak menjawab per­­mintaan hujan batu dari kaum kafir, se­akan telah direduksi nilai dan daya ke­­mukjizatannya: Nabi sekaligus Rasul di­­pandang tak punya nyali di mata publik. Ter­­kait itu, Tuhan sudah pasti di sisi pers­pek­tif telah menemukan ketuntasan ja­wa­bannya. Namun, Tuhan konsisten da­lam pendiriannya menampilkan untuk ti­dak pernah malu pada kitab suci-Nya yang terkandung segala rupa info terbuka dan tak pernah ditutupi atau diedit se­dikitpun (Q.S. 2 : 26 ). 

 Apa kata sementara umat, Quran disu­dutkan kitab mitos, dongeng, fiksi romantis, kitab yang mengajarkan kekerasan dan perang. Semua pandangan itu terus bergulir pada posisi paling wajar sejak Quran itu diturunkan hingga sekarang.

Bukankah sejak pesan wahyu diturunkan pada Nabi, tidak sedikit umat yang me­nuduh Nabi berpenyakit gila dan tukang si­hir. Wahyu yang diterima tidak lebih di­pandang dongeng/cerita yang didiktekan oleh para nenek moyanngnya dahulu (Q.S. 25 :5 ).  

Ketidakpercayaan itu makin tidak putus pada pesan wahyu Al-Quran, saat Nabi tak berdaya menurunkan barang satu ayat pun atas permintaan publik kaum opo­san. Sekali lagi, Tuhan tak pernah ma­lu menyikapi kaum oposan ini karena di tempat lain, Tuhan makin hiperbolis men­figurkan sosok Nab diizinkan kawin le­bih dari empat didampingi budak-budak yang cantik. Pernikahan dengan mantan istri anak angkatnya, zaid bin Haristah, pun dikukuhkan dari yang selama ini dipandang tabu (Q.S. 33 : 37). 

Belum lagi peristiwa paling dramatis sang per­maisuri Nabi sendiri, Siti Aisyah, dibeberkan al-Quran menjadi korban be­rita bohong berupa tuduhan perbuatan bejad dengan sahabat Nabi Sofwan bin Mua­ththal As-Sulami Az-Zakwani saat mendampingi Rasulullah dalam ekpedisi perang (Q.S. 24 :12). Tidak sampai di sini, kasus lain Nabi pernah ditegur Tuhan atas sikapnya yang lebih mementingkan kaum pembesar/elit yang ingin melakukn pembicaraan khusus dengan Nabi. Semen­tara Sahabat Nabi sendiri, Abdullah bin Umi Maktum, sosok tua renta, yang sa­­ngat serius menghadap Nabi ingin be­lajar dan mendapat petunjuk agama terkesan diabaikn (Q.S. 80 : 8-10)

Dibalik terdapat info al-Quran yang ter­kesan “mereduksi” martabat kenabian Muhammad SAW. Tidak demikian di ayat lain, Nabi justru diberi akses wahyu yang memberitakan laporan Hafsah ke­pada Aisyah dari berita rahasia ber­sama atas kecemburuan Hafsah ter­hadap budak perempuan Nabi yang dibawa ke rumahnya (Q.S. 66:3). Padahal Nabi saat itu juga me­mutuskn untuk meng­haramkan budak itu.

Pada puncaknya di gugus ayat-ayat spesifik, Tuhan tidak membiarkan Nabi dari para konspirator yang menggugat ke­benaran wahyu. Tuhan menuntun Nabi de­ngan jawaban cedas , menukik dan se­kaligus mematahkna alibinya musuh Nabi yang selama ini selalu memandang wahyu sebagai sihir belaka. Jawaban menukik itu, “ katakan Hai Muhammad bahwa aku tak mampu menurunkan ayat/mujizat bardasarkan nafsuku melainkan semuanya dari Tuhan Ku”.”aku takut me­lang­gar pada Tuhan-Ku (Q.S. 10:15 ). 

Betapun kaum yang ingkar ( kafir dan mu­syrik) itu memaksanya kepada Nabi berulang-ulang untuk menurunkan wahyu di depan mereka, pasti tidak akan dipenuhi Nabi. Wahyu itu sdh turun di hadapan mereka berulang-ulang di zaman Nabi sebelumnya, namun mereka tidak pernah beriman (Q.S. 6:109). Bahkan di masa Nabi SAW yang sudah jelas dirasakan kein­dahan bahasanya. 

Bahasa wahyu yang dirasa aneh dan tidak pernah sebagus itu mendengarnya sing­gah di hati kaum musyrik, namun tetap saja mereka tidak percaya. Mereka se­lalu memandang wahyu yang datang pa­da Nabi itu merupakan sihir belaka.


Prof Dr H Fauzul Iman, MA,

mantan Rektor UIN SMH Banten (*)