DECEMBER 9, 2022
Pandeglang

Kawasan Wisata Kuliner Dikeluhkan

post-img

PANDEGLANG - Sejumlah pedagang di kawasan wisata kuliner di Jalan Bank Banten atau Gedung Juang dikeluhkan para pedagang. Mereka menilai, lokasi tersebut tidak menjanjikan karena selalu sepi setiap harinya. 

Diketahui, tempat wisata kuliner tersebut diresmikan Pemkab Pandeglang pada 2019 lalu dengan menggunakan anggaran dari dana Coorporate Social Responsibility (CSR) bank BJB Rp244,622 juta. Lokasi tersebut digunakan untuk berjualan para pedagang kaki lima (PKL) yang awalnya berjualan di Alun-alun Berkah Pandeglang. 

Rudi, pedagang kopi di wisata kuliner mengeluh­kan menurunnya pendapatan selama berjualan di lokasi tersebut. Padahal, sebelum dipindahkan dari Alun-alun Berkah Pandeglang, dirinya bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp250 ribu dalam satu malam. "Kalau sekarang paling hanya Rp50 ribu, itu juga kalau ramai. Kan kondisinya sekarang sepi," katanya di kawasan wisata kuliner, Minggu (26/6). 

Sepinya kawasan wisata tersebut karena tidak ditunjang oleh sarana dan prasarana lain. Selain itu, di lokasi itu juga bukan jalur transportasi masyarakat. "Harus dilengkapi sarana dan pra­sarananya. Kalau cuma dibuatkan saung buat dagang, nggak akan sampai ramai," tegasnya. 

Mustopa, penjual roko di kawasan wisata kuliner meminta agar Bupati Irna Narulita segera mencarikan solusi untuk persoalan sepinya pengunjung tersebut. Soalnya, sejak tiga tahun lalu, pendapatannya dari berjualan hanya sedikit. "Kalau dulu, bisa sampai Rp450 ribu semalam karena ramai. Kalau sekarang kan sepi, paling besar juga hanya Rp200 ribu," ujarnya. 

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Pandeglang Suaedi Kurdiatna mengakui lokasi kawasan wisata kuliner tersebut sepi pengunjung. Namun, dia mengaku sedang melakukan kajian agar persoalan tersebut bisa diatasi. "Iya memang sepi pengunjungnya, banyak juga yang cerita mengenai persoalan itu," ungkapnya. 

Pria yang akrab disapa Eed ini menerangkan, pemerintah daerah sedang melakukan penghitungan mengenai pengembangan kawasan wisata kuliner tersebut, termasuk rencana menggandeng pihak ketiga. "Bila perlu kita swakelolakan kepada pihak ketiga. Tahun ini kita hitung kebutuhan anggarannya, paling pembangunannya dilakukan tahun depan," tukasnya.(dib/tur)