DECEMBER 9, 2022
Utama

Masuk Sekolah, Seluruh Siswa Divaksin

post-img

dr Ati Pramudji Hastuti, Kepala Dinkes Provinsi Banten.


Tahun Ajaran Baru

Kasus Covid-19 di Banten ada kenaikan sejak awal Juni 2022. Ber­da­sar­kan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, penambahan kasus Covid-19 per hari mencapai 200 kasus.

Untuk itu, Dinkes akan menggen­carkan pemberian vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat, khususnya anak-anak.

Kepala Dinkes Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengatakan, ca­paian vaksinasi Covid-19 pada anak di Banten masih rendah. “Capaian vak­­sinasi dosis kedua untuk anak-anak masih 51,4 persen,” ujar Ati me­lalui telepon seluler kepada Radar Ban­ten, Minggu (26/6).

Berdasarkan data yang dimiliki Din­kes, capaian vaksinasi dosis pertama di Banten mencapai 94,7 persen atau 8.744.040 orang. Dari jumlah itu, capaian untuk anak-anak 70,4 persen atau 858.482 orang.

Sementara, lanjut Ati, capaian dosis ke­dua di Banten yakni 76,3 persen atau 6.996.539 orang. Sedangkan capaian dosis kedua untuk anak-anak 51,4 persen atau 634.564 orang. Sedangkan untuk dosis lanjutan atau booster 24,6 persen atau 2.263.663 orang. “Kalau untuk anak-anak tidak ada booster,” ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu upaya pen­cegahan penyebaran Covid-19 adalah meningkatkan imunitas tubuh, dengan cara alami maupun buatan. Untuk me­ningkatkan imunitas tubuh secara ala­mi, masyarakat harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Sedangkan untuk meningkatkan imu­nitas tubuh secara buatan, mantan Di­rektur Utama RSUD Kota Tangerang ini mengatakan, perlu ada vaksinasi. “Kita terus menggencarkan vaksinasi. Mes­kipun agak sulit. Makanya kami door to door,” ungkapnya.

Kata dia, capaian dosis untuk anak-anak paling rendah di antara yang lain. Hal itu terjadi karena saat awal pem­berian vaksinasi, sekolah meminta izin orangtua. Padahal, di dalam petunjuk teknis di masa pandemi Covid-19, tidak perlu pakai izin orangtua dan anak diwajibkan ikut vaksinasi.

Makanya, lanjut Ati, di tahun ajaran baru nanti anak-anak langsung divaksi­nasi. “Saat sudah pembelajaran tatap muka, kita langsung jemput bola ke sekolah,” terangnya.

Ia mengaku saat pemberian vaksinasi kepada anak-anak usia 6 tahun sampai 11 tahun, sekolah belum menerapkan pembelajaran tatap muka. Untuk itu, begitu tahun ajaran baru dimulai pada per­tengahan Juli nanti, semua siswa baru maupun siswa yang belum divaksin harus vaksinasi.

Ati menegaskan, pemberian vaksin itu tidak perlu persetujuan orangtua. Apa­lagi, masyarakat tidak boleh meng­halangi tenaga kesehatan memberikan vaksinasi untuk menekan penyebar wabah.

Pada kesempatan itu, ia mengung­kap­kan, sejauh ini belum ada kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) kepada anak-anak. “Belum ada. Namun ada juga karena yang bersangkutan memiliki pe­nyakit lain yang kebetulan setelah divaksin dia sakit, jadi dianggap karena KIPI. Tapi kita ada Pokja dan Komda KIPI,” terangnya.

Kata dia, target vaksinasi Covid-19 un­tuk anak-anak dosis pertama memang 70 persen. Di Banten, capaiannya sudah melewati target. Namun, untuk tingkat kabupaten/kota belum seluruhnya 70 persen.

“Yang masih di bawah 70 persen itu di antaranya Kota Serang, Kabupaten Lebak, Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Cilegon,” papar Ati. Capaian vak­sinasi anak di lima daerah itu masih rendah dibandingkan wilayah Tangerang Raya yaitu Kota Tangerang, Kota Tange­rang Selatan, dan Kabupaten Tangerang karena ketiga daerah itu lebih dulu melaksanakan vaksinasi anak.

Sementara itu, Penjabat Gubernur Ban­ten Al Muktabar mendapatkan tu­gas dari Presiden RI Joko Widodo un­tuk terus meningkatkan capaian vaksinasi Covid-19 di Banten. Perintah itu disampaikan Joko Widodo saat me­lak­sanakan kunjungan kerja ke Banten, beberapa waktu lalu.

Al mengatakan, Pemprov akan terus mengampanyekan vaksinasi tahap satu dan dua. “Tahap satu kan sudah 95 per­sen, tahap dua sudah 74 sekian per­sen dan kita akan tingkatkan terus,” ujarnya.

Saat ini menjadi catatan adalah vaksinasi lanjutan atau booster yang capaiannya masih kecil. Berdasarkan data yang dimilikinya, capaian vaksinasi booster baru sekira 26 persen.

Mantan Widyaiswara Ahli Utama di Kementerian Dalam Negeri ini menga­takan, Pemprov sedang mengupayakan untuk meningkatkan capaian vaksinasi. Apabila ada kekurangan stok vaksin, maka pihaknya akan mengajukan ke pusat. (nna/alt)