DECEMBER 9, 2022
Tangerang - Viral

Harga Cabai Naik, Pedagang Warteg Menjerit

post-img

TANGERANG-Harga komoditas pangan di sejumlah pasar di Kota Tangerang Se­latan mengalami kenaikan. Kenaikan yang cukup signifikan terjadi pada cabai. Pantauan di lapangan, kini, per kilogram cabai tembus Rp 100 ribu. Padahal harga cabai sebelumnya hanya Rp 35 ribu-Rp 43 ribu per-kilogramnya. 

Kemudian harga pangan lainnyapun me­nyusul naik, seperti harga bawang Rp 60 ribu perkilogram dari biasanya Rp 40 ribu. Harga telur naik Rp 30 ribu per kilogram dari Rp 22 ribu-24 ribu.

Kenaikan harga pangan ini membuat pedagang warteg mengeluh. Seperti diutarakan Tikno, pedagang warteg di daerah Ciater, kebingungan mengatur harga makanannya.

Menurutnya, ia tidak sanggup menaikkan harga makanannya kendati modal yang di­keluarkan lebih besar, “Karena kita bi­ngung. Kalau dinaikkan, pelanggan pa­da kabur. Kan pelanggan kita kebanyakan ojek online, mereka juga lagi susah se­karang,” ujarnya, Jumat, (26/8).

Tikno mengatakan, keuntungan yang diperoleh dari penjualannya tentunya turun drastis. Sebelum harga pangan naik. Namun, ia tetap mengambil resiko ini ke­timbang menaikan harga makanannya. 

“Ya, lebih baik untung dikit, tapi pelang­gan gak kabur. Karena pelanggan kan gak mau tau harga naik. Dia taunya, bia­sanya beli makan harganya sekian, kok sekarang harganya naik,” jelasnya.

Menurut Tikno tak hanya harga pangan yang naik. Harga gas ukuran 3 kilogram juga mengalami kenaikan Rp 23 ribu dari yang sebelumnya Rp 20 ribu. “Jadi kita bener-bener hemat banget deh. Kalau lauk di etalase belum habis, kita gak masak dulu. Kalau biasanya kita goreng aja se­muanya, karena yakin habis. Kalau sekarang gak yakin,” ujarnya.

Sementara pengusaha warteg di Pondok Cabe Udik, Siti Rohimah juga mengeluhkan hal yang sama. Ia berharap Pemerintah Kota Tangerang kembali menstabilkan harga pangan. “Udah hampir 2 minggu, semua harga naik. Kita gak kuat kalau te­rus begini. Mudah-mudahan pemerintah bisa nurunin harga secepatnya,” ujarnya.

Menurut Rohimah, ia tak lagi bisa mem­beri sambal banyak-banyak kepada pe­lang­gannya dengan memberitahukan harga cabai sedang mahal. “Kita tetep kasih sambal, karena kan kalau gak ada sam­bal sama sekali juga gak enak. Tapi kita taker aja. Gak boleh nambah,” ujar ibu empat anak ini. (ful/asp)