DECEMBER 9, 2022
Utama

Bina Anak-anak Putus Sekolah Jadi Penulis

post-img

BINCANG: Ketua Perkumpulan Penulis dan Motivator Nasional Nur Badriyah (kanan) berbincang dengan Redaktur Pelaksana Radar Banten Aditya Ramadhan pada Radar Banten Podcast, di Graha Pena Radar Banten, Kota Serang, Senin (27/6).  (qodrat/radar banten)


Perkumpulan Penulis dan Motivator Nasional

Apa jadinya ketika ribuan penulis dan motivator berkumpul bersama. Dalam wadah bernama PPMN, mereka mempunyai mimpi agar tidak ada lagi orang yang buta aksara.

ROSTINAH - Serang

BERSEMANGAT. Itulah kata yang bisa menggambarkan seorang perempuan bernama Nur Badriyah. Seorang guru di SMAN 5 Kota Cilegon ini mempunyai mimpi besar agar tidak ada lagi orang Indonesia yang buta aksara.

Bermula dari woro-woro di Facebook membentuk Perkumpulan Penulis dan Motivator Nasional (PPMN), tak disangka justru mendapatkan respons luar biasa. Perkumpulan itu kini berang­gotakan lima ribu orang yang sama-sama memiliki cita-cita mulia. Tak mengejar eksistensi dunia, tapi in­vestasi akhirat melalui literasi.

Meskipun baru terbentuk, tetapi PPNM telah dikukuhkan oleh Kementerian Hu­­kum dan Hak Asasi Manusia (Kemen­hukham) RI. Perempuan yang sudah banyak menghasilkan karya ini pun diku­kuhkan sebagai Ketua Umum PPMN. 

Anggotanya pun bukan main-main, mu­lai dari anak sekolah, ibu-ibu, para pe­jabat, para tokoh, penulis inter­na­sional, sampai didukung penuh oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Selain itu, ada juga beberapa tokoh publik seperti Najila Shihab dan Putu Wijaya yang juga tergabung dalam PPMN.

Bagi Nur, literasi memang memang da­sar dari semua elemen. Untuk itu, PPMN dibentuk. Sasarannya adalah anak putus sekolah. Setiap orang bisa menjadi anggota PPMN secara gratis dengan syarat membawa 20 anak putus sekolah yang berpotensi.

“Indonesia mempunyai target mencip­ta­kan generasi emas 2045. Bagaimana mau jadi emas kalau tidak pernah di­angkat,” tandasnya saat Podcast Radar Bante di studio Padcast Radar Banten, Senin (27/6).

Kata dia, emas-emas itu adalah generasi Indonesia yang terpuruk, termajinalkan, dan jarang diperhatikan. Peningkatan pen­didikan tidak bisa hanya dilakukan pemerintah. “Harusnya kita-kita ini yang dari akar rumput yang ikut mem­bantu,” tuturnya.

Alumni Universitas Lampung ini me­nga­takan, anak-anak putus sekolah membutuhkan wadah dan media agar bisa bersekolah. Mereka bukan orang bodoh, tapi mereka memiliki kompetensi. 

Hanya saja mereka tidak memiliki ke­sem­patan dan uang untuk bisa me­nge­nyam bangku sekolah. Untuk itu PPMN ini hadir untuk memberikan wadah. 

“Yang memiliki akses anak putus se­kolah, mereka (anak putus sekolah-red) dilatih untuk menulis dan public spea­king,” ujar Nur.

Para anak putus sekolah yang menjadi binaan PPMN akan disekolahkan sampai tamat. Menjadi wisudawan PPMN berbagai daerah di Indonesia. 

Lalu apa keuntungan menjadi anggota PPMN? Setiap anggota PPMN akan men­dapatkan ilmu dan dapat bertemu dengan tokoh-tokoh nasional, tanpa membayar. 

“Nonton konser saja bayar jutaan. Ini mah ketemu tokoh lho tidak nonton, bukan penonton, tapi pelakunya, aktor­nya,” tegas Nur.

Sejauh ini banyak yang peduli dengan pendidikan. Bukan main-main, penulis internasional yang bukunya dihargai di kancah internasional juga tergabung dalam organisasi ini. “Kita harapannya bukan mengejar eksistensi dunia tapi ingin investasi akhirat melalui literasi,” tuturnya.

Nur berharap, pemangku kebijakan di Banten juga peduli terhadap dunia literasi. Apalagi, Banten memiliki banyak potensi, yang kurang diperhatikan dan diberi wadah untuk unjuk gigi. “Jangan mimpi akan meningkat pendidikannya,” tandasnya.

Baginya, kunci agar minat baca tinggi ada­lah ada namanya dalam tulisan atau ada tulisan dia dalam suatu wadah. “Itu saja,” tegas Nur. Anak-anak putus sekolah juga memiliki lingkup sosial yang luas dan komunitas yang banyak, maka se­mangat literasinya dapat ditularkan. 

Dengan begitu tidak akan ada lagi orang yang buta aksara dan aksara akan membahana di seluruh Indonesia. “Melalui PPMN menjelajah dunia tanpa wacana,” pungkas Nur. (*)