DECEMBER 9, 2022
Utama

Digitalisasi Pendidikan Tak Bisa Dibendung

post-img

Al Muktabar Minta Dukungan PGRI


Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Banten menyikapi serius rencana Pemprov Banten melakukan digitalisasi di bidang pendidikan.

Menurut Ketua PGRI Provinsi Banten Muhtadi, perkembangan teknologi infor­masi membuat perubahan di­se­mua bidang, termasuk di sektor pen­didikan. “Teknologi digital saat ini tidak bisa dihindari, se­bagai organisasi yang menaungi guru, PGRI akan bergerak mem­per­baiki kualitas pembelajaran Dalam hal ini guru harus jadi peng­gerak perubahan agar men­jadi lokomotif, maka guru wajib menguasai teknologi,” kata Muhtadi ke­pada Radar Banten, Rabu (27/7).

Terkait dengan program digitalisasi pendidikan yang digagas Pj Gubernur Banten, Muhtadi mengaku pihaknya telah melakukan kajian dan diskusi di­in­ternal PGRI. Terlebih saat ini PGRI sedang menggelar kegiatan Workshop Pro­gram Mandatory PGRI dan Lingkar Belajar Guru (LBG) PGRI Provinsi Banten sejak 26 hingga 29 Juli mendatang.

“Digitalisasi memang tak bisa dibendung, termasuk di bidang pendidikan. Jadi PGRI tidak dalam posisi menolak atau men­du­kung, karena digitalisasi pendidikan menj­adi sebuah keharusan saat ini,” tutur­nya.

Ia menambahkan, semua pihak harus me­ngakui bila teknologi digital dibudang pendidikan pun dapat membantu siswa mem­percepat pemahaman, karena sumber belajar saat ini bukan hanya dari guru saja melainkan banyak sumber belajar yang dapat diakses dimana saja,kapan saja dengan berbagai platform.

“Namun dalam mengimplementasi pen­didikan karakter dan ahklak tidak bisa me­lalui virtual, guru harus melaksana­kan pembelajaran secara langsung dengan siswa disekolah. Seperti pelaksanaan sholat berjamaah di masjid sekolah,” bebernya.

Saat ini, lanjut Muhtadi, Kementerian pen­didikan dan kebudayaan riset dan teknologi (Kemenristek) sudah mem­berikan ruang kepada satuan pendidikan untuk melaksanakan pembelajaran secara tatap muka terbatas. Dengan demikian, kon­disi ini memberikan ruang bagi guru untuk memantau perkembangan siswa secara langsung di sekolah sudah terbuka.

 “Namun harus disadari, teknologi terkini memang tak bisa menggantikan peran guru, tapi guru yang tak mau belajar tek­nologi ter­kini, akan ditinggalkan oleh siswanya yang menguasai teknologi digital,” urainya.

Masih dikatakan Muhtadi, di Provinsi Banten secara bertahap sesungguhnya kegiatan pembelajaran di kelas meng­gunakan teknologi, namun masih banyak juga yang belum karena menunggu ke­pastian dari pemerintah.

“Prinsipnya, para guru harus dan wajib menguasai teknologi, sehingga tidak kalah oleh para siswa. Jangan sampai ada guru minta siswa kuasai teknologi tapi gurunya sendiri malah gagap tek­nologi,” tegasnya.

Berdasarkan data PGRI Banten, saat ini jumlah anggota PGRI lebih dari 100 ri­bu orang yang tersebar di 8 kabupaten/kota. “Pak Al Muktabar selaku Pj Gubernur secara otomatis menjadi pembina PGRI Pro­vinsi Banten,” pungkasnya.

Sementara itu, Pj Gubernur Banten Al Muk­tabar terus meminta dukungan ke ber­bagai lembaga untuk melaksanakan program digitalisasi pendidikan, termasuk kepad PGRI.

Menurut Al Muktabar, teknologi menjadi salah satu keniscayaan dalam transfer knowledge. Teknologi menjadikan pen­didikan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia lebih murah. “Teknologi menjadi salah satu keniscayaan dalam transfer knowledge, pendidikan,” katanya.

Untuk menyosialisasikan pendidikan dengan platform digital, Al Muktabar men­dorong para guru meng­imple­men­tasikan penggunaan teknologi dalam pendidikan dengan baik dan nyata. “Kita harus sudah berpikir ke sana. Kalau tidak kita bisa tertinggal,” tegasnya.

Masih dikatakan Al Muktabar, bidang pen­didikan merupakan salah satu penu­gasan dirinya sebagai Penjabat Gubernur, sehingga mulai tahun ini sektor pendidikan harus mengarah ke digitalisasi.

“Teknologi tidak bisa dihindari sekarang, kita harus masuk, kita harus memulainya. Ini kehidupan bangsa ke depan, kalau eng­gak, nanti Banten tertinggal,” tuturnya.

Terkait langkah konkret digitalisasi pen­didikan, Al menyebut programnya bisa macam-macam, bisa dekatkan ke se­kolah yang berjalan atau buat khusus se­kolah terbuka. “Dua setengah tahun kita pandemi Covid-19, pembelajaran on­line enggak ada masalah, perguruan tinggi nilainya juga bagus-bagus. Artinya ini satu solusi yang teruji coba, bukan loncat berpikir ngarang, bukan,” tegasnya.

Ia mengaku optimis bila Banten bisa suk­ses melaksanakan program digitalisasi pen­d­idikan, terutama di tingkat SMA/SMK yang menjadi tanggung jawab pro­vinsi dalam pengelolaannya.

“Saya punya survei kecil-kecilan, sekira 60 persen siswa sudah ingin digital, tinggal 40 yang mau datang ke sekolah. Kalau itu sudah bergulir, saya yakin siswa akan me­nyesuaikan,” tegasnya. 

Al Muktabar saat membuka Workshop Program Mandatory PGRI dan Lingkar Be­lajar Guru (LBG) PGRI Provinsi Banten di Hotel Horison Altama Pandeglang Kadu­merak, Karang Tanjung, Kabupaten Pandeg­lang meminta dukungan dari PGRI untuk memulai program digitalisasi pendidikan.

“Satu di antara mandatory dari Presiden RI Joko Widodo adalah peningkatan ka­pasitas sumber daya manusia, yang tugas berada di tangan guru,” katanya.

Al Muktabar mengatakan, peningkatan ka­pasitas guru, pada akhirnya akan me­ning­katkan kapasitas anak-anak didik se­bagai generasi penerus.Ikhwal digitali­sasi pendidikan, menurut Al Muktabar, pengalaman pada masa pandemi me­nun­jukkan bahwa dunia pendidikan tidak gagap dalam digitalisasi. 

“Ke depan, melalui teknologi, pendidikan semakin murah. Dengan teknologi, Bapak/ Ibu terfasilitasi dalam mengembangkan dan me­ningkatkan kapasitas diri. Bahkan para guru juga bisa go internasional me­lalui tek­nologi di kelas maya internasional,” tam­bahnya.

Masih menurut Al Muktabar, Pemprov Banten mengembangkan pendidikan de­ngan platform digital sebagai solusi dalam meningkatkan angka partisipasi sekolah.

“Langkah ini, sekaligus untuk mem­be­rikan pilihan kepada masyarakat dalam menempuh pendidikan secara transparan dan akuntabel,” pungkasnya. (den/air)