DECEMBER 9, 2022
Love Story - Inspirasi

Kena Karma, Nolak Cinta Kena Guna-guna

post-img

Sebagai seorang kakak, Amir (36) nama samaran sebenarnya tak sanggup meceritakan kisah yang dialami adik kandungnya sendiri ini, kita sebut saja Leti (28) yang jatuh hati kepada Sueb (30) bukan nama sebanarnya. Tapi sayang, hubungan keduanya tak direstui karena Sueb miskin, lamarannya ditolak mentah-mentah sampai membuat Leti stres dan gila. Astaga.

Kata Amir, kejadian ini berlangsung delapan tahun lalu. Saat adik gadisnya nan cantik jelita baru masuk kuliah dan sedang giat-giatnya belajar. Sedangkan Sueb saat itu tak kuliah dan bekerja serabutan di pasar. “Kalau dipikir pakai logika, jelas saya juga enggak setuju kalau mereka menikah,” kata Amir saat curhat dengan Radar Banten di salah satu kafe di Kota Serang, Rabu (27/7).

Namun, selayaknya seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, Amir tak pernah berkata secara langsung kepada Leti soal kisah asmara itu. Ia berusaha membiarkan adiknya mencari jalan hidupnya sendiri, termasuk urusan cinta. “Saya mah enggak pengen bikin adik sakit hati, makanya saya sih diem aja waktu itu,” katanya.

Tapi sikap orangtua mereka ternyata berbanding terbalik, kalau Amir cenderung menjaga perasaan adik, tapi kalau ayah dan ibu Leti, secara terang-terangan menolak Sueb sejak pertama kali mereka ketahuan pacaran. Masalahnya, apalagi kalau bukan soal status sosial.

Maklumlah, ayah Leti seorang pensiunan perusahaan besar dan terkenal di Cilegon, belum lagi usaha bengkel mobil dan kontrakan. Membuat statusnya dipandang orang-orang kampung, mobilnya saja tiga. Keluarga mereka juga terkenal sering menjadi donatur pembangunan masjid.

Kendati tak diizinkan pacaran, kata Amir, adiknya itu tetap menjalin hubungan dengan Sueb secara diam-diam. Amir tahu itu karena setiap ia lewat depan sekolah, sering memergoki Leti dan Sueb berduaan di warung bakso. Kadang mereka juga pulang sekolah berdua.

Tapi Amir selalu pura-pura tak tahu, selama mereka baik-baik saja dan tak melakukan hal yang macam-macam, Amir sih santai dan kalem. Soalnya, Amir tahu kalau Sueb sebenarnya anak baik, rajin ibadah, dan berprestasi di sekolah. “Di masjid juga di amah enggak pernah ketinggalan solat jamaahnya.” Terang Amir.

Setiap bertemu atau berpapasan dijalan, Sueb selalu menyapa dengan senyum ramah kepada Amir, ia pun membalasnya. Bagi Amir, selama Sueb bisa menjaga adiknya, ia tak akan ikut campur. “Kadang kasihan juga ke dia, anak yatim soalnya, ibunya jualan gorengan,” katanya.

Sampai suatu hari, ada tetangga yang melapor ke orangtua kalau Leti sering terlihat berduaan dengan Sueb. Sepulang sekolah Leti dimarahi habis-habisan sampai nangis, Amir yang melihat itu hanya bisa diam, soalnya kalau ayahnya sudah marah, tidak aka nada yang bisa melawan.

Mungkin karena trauma, Leti sampai sakit dan tak masuk sekolah. Padahal sebentar lagi akan UAS dan kenaikan kelas. Besoknya Sueb datang menjenguk sendirian, iabarat masuk lubang buaya, habisnya ia dimarahi. “Saya sudah coba ngomong baik-baik ke bapak supaya jangan kasar ke Sueb, malah saya yang dibentak,” aku Amir.

Sejak itu, Sueb dan Leti jadi jarang ber­duaan lagi, soalnya Amir mendapat tugas khusus setiap hari, yakni wajib me­ngantar jemput aditnya. Sepulang se­kolah harus ada di rumah, belajar dan ber­gabung bersama kelas les tambahan. Singkat cerita Leti dan Sueb lulus sekolah. “Mereka kayaknya udah putus gitu, soalnya enggak pernah deket lagi,” ujarnya.

Ditambah, Leti juga diterima kuliah di kampus ternama di Kota Serang, tapi Amir memilih buka usaha di pasar, jualan sembako. Katanya sih Amir dibantu bosnya untuk modal awal jualan karena jasa-jasanya sangat rajin dan menguntungkan.

Setahun kemudian, memang ada yang berubah dari Leti, ia jadi tak semangat kuliah, kesehariannya lebih banyak di rumah. Bahkan Leti jadi sering menanyakan terkait pernikahan. Orangtua dan Amir sih awalnya tak terlalu memikirkan apapun, malah menganggap biasa.

Hingga satu jari, Leti pulang bersama Sueb. Mereka berdua menyampaikan niat baik kalau ingin menikah, bahkan Sueb sudah membawa cincin lamaran yang bakal ia serahkan ke Leti. “Dia bilang kalau sudah nabung buat biaya nikah, disebutin tuh jumlahnya, bahkan katanya siap nyicil rumah,” kata Amir yang saat itu mendengar langsung pengakuan Sueb.

Tapi bagai sumbu disulut api, ayah dan ibu Leti langsung ngamuk, bukan hanya penolakan, tapi juga penghinaan yang diberikan atas jawaban dari lamaran Sueb. Saat itu Amir juga bingung harus melakukan apa, yang jelas, ia melihat Sueb menitikan air mata saat dibilang orang miskin enggak pantes nikah sama Leti.

Sejak itu Leti jadi pendiam, kuliahnya pun tak dilanjutkan. Badannya semakin lama sekain kurus karena tak mau makan, hingga berjalan tiga bulan, Leti jadi sering menangis sendirian di kamar, ka­dang sampai teriak-teriak. Amir dan ayah ibunya khawatir dan membawa Leti ke orang pintar, tapi tak sembuh, diba­wa ke rumah sakit juga taka da hasil. “Akhir­nya ya kami cuma bisa pasrah, adik saya sampai sekarang belum sem­buh, masih suka nangis sendirian di ka­mar,” kata Amin. Ya ampun, sabar ya Ka­ng Amir, semoga adiknya lekas sembuh. (drp)