DECEMBER 9, 2022
Utama

Memaknai Tahun Baru Hijrah Sebagai Momentum Muhasabah Dan Transformasi Diri

post-img

OLEH: Dr. H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si


Berakhirnya bulan Dzulhijjah dan datangnya bulan Muharram menjadi pe­nanda tutup ta­hun bagi umat mus­lim di seluruh du­nia. Tahun ba­ru hijri­yah kali ini jatuh pada hari Sab­tu, 1 Muharram 1444H, bertepatan de­ngan 30 Juli 2022. Bulan Mu­harram bagi umat Islam di­pa­hami se­bagai bu­lan Hi­jrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.. 

Peristi­wa tersebut merupakan momen yang sangat bersejarah bagi umat Muslim karena semenjak itu agama Islam ber­kem­bang pesat di sebagian besar daerah Jazirah Arab. Muharram yang diperingati sebagai tahun baru Islam merupakan salah satu dari beberapa bulan mulia (asyhuru hurum) yang dipilih sebagai awal permulaan kalender Islam. “Sesung­guh­nya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, dian­taranya ada empat bulan haram…” (Qs. At-Taubah : 36)

Tahun Baru Islam merupakan suatu hari yang penting bagi umat Islam karena menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam yaitu mem­peringati penghijrahan Nabi Mu­hammad saw. dari Kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peris­tiwa bersejarah itu terjadi pada 1 Mu­harram tahun baru bagi kalender Hijri­yah. Namun Tahun Hijrah Ra­sulullah SAW dari Mekah ke Madinah itu diambil se­bagai awal perhitungan bagi kalender Hijriyah. 

Menurut Ragib Al-Isfahani (w 502 H/1108 M), pakar leksikografi Alquran, ber­pendapat istilah hijrah mengacu pada tiga pengertian. Pertama, mening­galkan negeri yang penduduknya sangat tidak bersahabat menuju negeri yang aman dan damai. Kedua, meninggalkan syahwat, akhlak buruk dan dosa-dosa me­nuju kebaikan dan kemaslahatan (QS al-Ankabut, 29:26). Ketiga, me­ning­galkan semua bentuk kemaksiatan, nar­sisme, dan hedonisme menuju ke­sa­daran kemanusiaan dengan cara mu­jahadah an nafs (mengontrol hawa nafsu). Sungguh tepat hadis Nabi, “Orang yang berhijrah ialah orang yang me­ning­galkan segala yang dibenci Allah.” (Riwayat Bukhari) 

Pergantian tahun khususnya tahun baru Hijriyah sebaiknya dijadikan se­bagai momentum bersama untuk meng­­instrospeksi (bermuhasabah) diri melakukan transformasi ke arah kon­­disi yang lebih baik dari tahun se­be­­lumnya. Perpindahan tersebut an­ta­­ranya, dari kebatilan menuju ke­be­nar­an, kebodohan kepada ilmu penge­tahuan, dari sifat malas ke pekerja keras, dan kemiskinan kepada berkecukupan.

Wahai orang-orang yang beriman, ber­takwalah kepada Allah dan hen­dak­lah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al Hasyr;59:18)

Dalam Alquran surat Ar-Ra’du [13] ayat 11 telah ditegaskan, ‘’Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum tan­pa dia sendiri mengubah nasibnya.’‘ Ayat ini memberi otoritas kepada se­genap manusia untuk berusaha sekuat te­naga dan pikiran, mengerahkan segala potensinya demi kehidupan yang lebih baik. Bukan semata-mata berharap dan hanya bergantung terhadap ‘ke­kuat­an lain’ dalam menjalani hidup. 

Me­mang kita bisa merasakan bedanya peristiwa penyambutan tahun baru Masehi dan tahun baru Islam (Hijriah). Tahun baru Islam disambut biasa-biasa saja, jauh dari suasana meriah, tidak seperti tahun baru Masehi yang disambut meriah termasuk oleh masyarakat mus­lim sendiri. Sebagai titik awal per­kem­bangan Islam, seharusnya umat Islam menyambut tahun baru Islam ini dengan semarak, penuh kesadaran sambil intros­peksi, merenungkan apa yang te­lah dilakukan dalam kurun waktu se­tahun yang telah berlalu.

Bagi kita umat Islam di Indonesia, su­dah tidak relevan lagi berhijrah ber­bondong-bondong seperti hijrahnya rasul, mengingat kita sudah bertempat tinggal di negeri yang aman, di negeri yang dijamin kebebasannya untuk ber­agama, namun kita wajib untuk hijrah dalam makna “hijratun nafsiah” dan “hijratul amaliyah” yaitu perpindahan secara spiritual dan intelektual, per­pin­dahan dari kekufuran kepada ke­imanan dengan meningkatkan semangat dan kesungguhan dalam beribadah. Da­lam menyambut dan memperingati ta­hun baru Islam, umat Muslim di­harapkan memaknainya dengan mem­buka lembaran baru serta mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan. 

Makna tahun baru Islam me­mi­li­ki makna bahwa terjadinya perubahan pada sesuatu yang menuju kebaikan, memiliki manfaat untuk seluruh manusia dan untuk semua alam semesta dengan me­nggunakan semangat damai penuh kasih sayang.Hal ini membuat tujuan Allah SWT me­nurunkan Islam sebagai agama yang rah­matan lil alamin. “Se­sungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pe­ngam­pun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 218) 

Dalam menyambut tahun baru Islam, kita bisa merenungkan perbuatan kita di tahun-tahun sebelumnya dan meren­canakan tujuan di tahun yang baru ini de­ngan resolusi-resolusi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Seluruh umat Muslim untuk terus meningkatkan amal sholeh meski di tengah pandemic COVID 19 seperti saat ini. Bersabar dan terus bermuhasabah adalah cara yang paling tepat untuk mengawali da­tangnya tahun yang baru. Mari kita ra­­yakan tahun baru Islam dengan mem­perbanyak dzikir, doa, dan munajat, bahkan berpuasa. Semoga Covid-19 de­ngan beraneka variannya cepat berlalu dan negeri yang kita cintai ini dapat se­gera pulih dan bangkit.

Semoga mengawali tahun 1444 H nanti, kita dapat merancang hari-hari kita ke de­pan lebih baik lagi. Tak pernah kha­watir mengorbankan apa yang kita miliki untuk kepentingan orang banyak, mem­bela agama dan meledani generasi awal dalam perjuangan mereka bersama Rosulullah SAW, bersama orang-orang sholeh dalam menjalankan syari’at de­ngan penuh keta’atan. Amiin ya rabbal ‘alamin.(*)

Penulis adalah Ketua DPW Forum Si­la­turahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten, Dosen Univ. Esa Unggul Jakarta, Dewan Pakar ICMI Orda Kota Tangerang