DECEMBER 9, 2022
Tangerang - Viral

Bangli Hambat Pekerjaan Rehabilitasi Saluran Induk Cisadane Barat

post-img

BANGUNAN LIAR: Sejumlah pekerja melakukan pekerjaan rehabilitasi saluran induk dan sekunder Cisadane Barat, kemarin.  (Mulyadi/radar banten)

RAJEG--Kegiatan rehabilitasi saluran induk dan sekunder Cisadane Barat se­panjang 6,7 KM senilai Rp52 Miliar ter­ganjal bangunan liar (Bangli) di sepanjang garis sempadan saluran tersebut. 

Pelaksana Rehabilitasi Saluran Induk dan Sekunder Cisadane Barat dari PT Tirta Restu Ayunda, Romi Mulyana menga­ku kesulitan untuk mengerjakan proyek tersebut. Apalagi jika menggunakan alat berat.  

Pasalnya terdapat bangunan liar di se­panjang jalur pekerjaan, yaitu di Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang dan di jalur yang berada di Kecamatan Priuk Kota Tangerang.

“Untuk di wilayah Kecamatan Priuk, kami mengalami kesulitan dalam melaku­kan pekerjaan, karena banyak bangunan liar yang berupa warung berderet di garis sem­padan sungai tersebut, yaitu dekat salah satu pabrik merk handphone ter­nama,” ucapnya, Selasa (27/9).

Dia mengungkapkan, dalam penanganan bangunan liar tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak kelurahan setempat, yaitu Kelurahan Priuk Jaya. Namun pihak kelurahan mempersilakan ditertibkan.

“Dengan adanya bangunan liar yang berdiri di wilayah kerja kami, otomatis itu akan mempersulit kerja kami dalam me­lakukan rehabilitasi,”ujarnya.

Dirinya menambahkan, terdapat juga bangunan liar yang berada di Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, termasuk ada salah satu dapur rumah bangunan liar yang berdiri di atas saluran yang akan di rehabilitasi.

“Kami sudah melakukan koordinasi dengan pihak kelurahan atau desa yang wilayah salurannya kami perbaiki. Namun pihak kelurahan memerintahkan kami untuk koordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tangerang maupun Kota Tangerang untuk segera dilakukan pembongkaran,” jelasnya.

Dirinya juga telah melakukan upaya koordinasi dengan penghuni bangunan liar, supaya ketika pihaknya sedang melakukan pekerjaan agar warung-warung tersebut ditutup sementara.

“Untuk saat ini, agar pekerjaan selesai tepat waktu, kami sedang mengebut pekerjaan normalisasi tersebut, yang saat ini alhamdulilah pekerjaan secara keseluruhan sudah mencapai 70 persen,” ungkapnya.

Lebih jauh Romi mengatakan, pekerjaan normalisasi ini yang menjadi penghambat juga dari faktor alam, yaitu hujan. Karena dengan turunnya hujan pekerjaan akan memakan waktu lama.

“Faktor cuaca sangat mempengaruhi pekerjaan normalisasi, namun demikian kami optimis pekerjaan ini akan selesai tepat waktu di akhir tahun ini,” pungkasnya.

Sementara, Penggiat Lingkungan Nirwan Rosidin (48) mengaku sangat mengapresiasi Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) yang telah mereha­bilitasi saluran induk dan sekunder Ci­sadane Barat. Namun demikian harus ada komunikasi yang cakap antara pihak balai, pemerintah Kabupaten Tangerang, dan pemerintahan desa maupun ke­lu­rahan.

“Nah komunikasi ini agar pembangunan rehabilitasi saluran induk Cisadane hingga ke saluran terkecil bisa sejalan dan terarah. Se­hingga wewenang untuk perbaikan bi­sa berjalan dengan baik,” singkatnya. (mul/asp)