Oleh: Hadi Susiono Panduk
Dalam kehidupan daily basis, keberuntungan sulit dicari dan tak mudah datang begitu saja. Namun, Alquran memberikan kata kunci dalam mencari keberuntungan.
Manusia yang beruntung akan terhindar dari kerugian. Dalam Surat Al-‘Asr, ayat 2-3 dijelaskan dengan gamblang yang sari patinya adalah bahwa semua manusia akan merugi kecuali, pertama, orang-orang yang beriman.
Iman adalah laku batin dari seorang Mukmin. Dia percaya adanya Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul dan nabi, hari akhir serta qadha dan qadar.
Jika keimanan terhadap keenam rukun iman tersebut terpatri dengan kuat pada dada setiap Mukmin, maka sangat kecil kemungkinan dia akan merugi. Satu ilustrasi, jika seorang Mukmin benar-benar menyadari bahwa Allah Maha Melihat, maka segala bentuk transaksi yang dia lakukan akan dilandasi dengan kejujuran bukan kecurangan.
Dari transaksi yang penuh akuntabilitas dan transparan inilah, kemudian akan mendatangkan keuntungan dan keberuntungan.
Kedua, beramal saleh. Buah dari keimanan adalah refleksi perbuatan baik karena bagaimana mungkin seseorang percaya akan hari akhir, sedangkan dia tidak berusaha untuk menambah pundi-pundi amal baik, untuk kemudian dapat diunduh di hari kiamat.
Bagi mereka yang berpikir kritis analitis pasti akan terus merajut dan menyemai perbuatan baik setiap saat, karena hanya dengan hal tersebut, maka akan menjadi perisai dari api neraka. Hari-hari akan disibukkan dengan jenis kebaikan apa yang hendak dilakukan dan bagaimana cara merealisasikan perbuatan baik tersebut.
Pendek kata, inventarisasi kebaikan. Ketiga, saling menasihati untuk kebenaran. Nasihat konstruktif yang bermuara pada kebaikan sangat diperlukan dalam interaksi sosial. Nasihat adalah input, kritik atas sebuah persoalan.
Seorang Mukmin bisa saja tergelincir dan masuk dalam jebakan musuh abadinya, yakni setan, jika tidak diingatkan dalam bentuk nasihat dari saudara Mukminnya. Nasihat yang tulus akan dapat dengan mudah diterima dalam sanubari.
Berbeda dari ungkapan yang terkesan nasihat, tetapi pada esensinya adalah nyinyiran seperti yang sering kali berseliweran di media sosial dewasa ini. Keempat, saling bernasihat atas kesabaran.
Tidak ada manusia yang tidak dicoba oleh Allah SWT. Salah satu cara penguatan kesabaran atas sebuah cobaan atau musibah adalah keterlibatan orang lain dalam bentuk nasihat.
Orang yang sedang terpuruk dengan musibah yang menimpa sering kali galau dan membutuhkan orang lain untuk membesarkan jiwanya dengan nasihat akan kesabaran dalam menghadapi problematika kehidupan. Kesabaran adalah tolok ukur emosi seseorang.
Maka tidaklah mengherankan jika Allah SWT memilih para Rasul-Nya yang terdiri dari Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS, Nabi Nuh AS, Nabi Isa AS, dan Nabi Musa AS, dan menggelari mereka dengan predikat bergengsi Ulul Azmi (rasul dengan ketabahan dan kesabaran yang luar biasa).
Dalam masa pandemi Covid-19, saling menasehati tentang kesabaran merupakan penambah imun emosional karena dunia masih dilanda ketakutan, ketidakpastian dan problem kehidupan yang masih menganga.
Dengan mengimplentasikan keempat solusi jitu dari Surat Surat Al-‘Asr ayat 2-3 niscaya kita akan menjadi hamba Allah SWT yang beruntung.(*)
Alumnus Universitas Diponegoro dan Pengurus MUI Kabupaten Lebak
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
