DECEMBER 9, 2022
Utama

Menjadi Manusia Beruntung

post-img

Oleh: Hadi Susiono Panduk

Dalam kehidupan daily basis, keberuntungan sulit dicari dan tak mudah datang begitu saja. Namun, Alquran mem­berikan kata kunci dalam mencari kebe­run­­tungan.

Manusia yang berun­tung akan terhindar dari ke­rugian. Dalam Surat Al-‘Asr, ayat 2-3 di­jelaskan dengan gam­blang yang sari patinya ada­lah bahwa semua ma­nusia akan merugi ke­cuali, pertama, orang-orang yang beriman.

Iman adalah laku batin dari seorang Mukmin. Dia percaya adanya Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul dan nabi, hari akhir serta qadha dan qadar.

Jika keimanan terhadap keenam rukun iman tersebut terpatri dengan kuat pada dada setiap Mukmin, maka sangat kecil kemungkinan dia akan merugi. Satu ilustrasi, jika seorang Mukmin benar-benar menyadari bahwa Allah Maha Melihat, maka segala bentuk transaksi yang dia lakukan akan dilandasi dengan kejujuran bukan kecurangan.

Dari transaksi yang penuh akuntabilitas dan transparan inilah, kemudian akan mendatangkan keuntungan dan ke­berun­tungan.

Kedua, beramal saleh. Buah dari ke­iman­an adalah refleksi perbuatan baik karena bagaimana mungkin seseorang per­caya akan hari akhir, sedangkan dia tidak berusaha untuk menambah pundi-pundi amal baik, untuk kemudian dapat diunduh di hari kiamat.

Bagi mereka yang berpikir kritis analitis pasti akan terus merajut dan menyemai per­buatan baik setiap saat, karena hanya dengan hal tersebut, maka akan menjadi perisai dari api neraka. Hari-hari akan disibukkan dengan jenis kebaikan apa yang hendak dilakukan dan bagaimana cara merealisasikan perbuatan baik ter­sebut.

Pendek kata, inventarisasi kebaikan. Ketiga, saling menasihati untuk ke­be­nar­an. Nasihat konstruktif yang ber­muara pada kebaikan sangat diperlukan dalam interaksi sosial. Nasihat adalah input, kritik atas sebuah persoalan.

Seorang Mukmin bisa saja tergelincir dan masuk dalam jebakan musuh aba­di­­nya, yakni setan, jika tidak di­ingatkan dalam bentuk nasihat dari sau­dara Mukminnya. Nasihat yang tulus akan da­pat dengan mudah diterima dalam sa­nubari.

Berbeda dari ungkapan yang terkesan nasihat, tetapi pada esensinya adalah nyinyiran seperti yang sering kali ber­seliweran di media sosial dewasa ini. Keempat, saling bernasihat atas ke­sabaran.

Tidak ada manusia yang tidak dicoba oleh Allah SWT. Salah satu cara penguat­an kesabaran atas sebuah cobaan atau mu­sibah adalah keterlibatan orang lain dalam bentuk nasihat.

Orang yang sedang terpuruk dengan mu­sibah yang menimpa sering kali galau dan membutuhkan orang lain untuk membesarkan jiwanya dengan na­sihat akan kesabaran dalam meng­hadapi problematika kehidupan. Ke­sabaran adalah tolok ukur emosi se­seorang.

Maka tidaklah mengherankan jika Allah SWT memilih para Rasul-Nya yang terdiri dari Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS, Nabi Nuh AS, Nabi Isa AS, dan Nabi Musa AS, dan meng­gelari mereka dengan predikat bergengsi Ulul Azmi (rasul dengan ketabahan dan kesabaran yang luar biasa).

Dalam masa pandemi Covid-19, saling me­nasehati tentang kesabaran merupa­kan penambah imun emosional karena dunia masih dilanda ketakutan, ketidak­pastian dan problem kehidupan yang masih menganga.

Dengan mengimplentasikan keempat solusi jitu dari Surat Surat Al-‘Asr ayat 2-3 niscaya kita akan menjadi hamba Allah SWT yang beruntung.(*)


Alumnus Universitas Diponegoro dan Pengurus MUI Kabupaten Lebak