DECEMBER 9, 2022
Love Story - Inspirasi

Bisnis Bangkrut Bikin Sering Adu Mulut

post-img

Sueb (29) dan Siti (27), keduanya nama samaran selalu ingin terlihat kaya dengan membeli barang mewah, ujung-ujungnya bisnis bangkrut dan setiap hari pasti adu mulut.

DIKETAHUI, awalnya mereka merintis usaha konveksi rumahan di daerah Balaraja, Kabupaten Tangerang. Mengandalkan kemampuan menjahit Siti dari hasil kursus serta jaringan pertemanan Sueb, bisnis mereka awalnya maju pesat.

Rezeki dari pernikahan keduanya benar-benar mereka rasakan, apalagi setelah lahir sang buah hati, pelanggan terus bertambah hingga memiliki lima karyawan.

Siti dan Sueb yang berasal dari keluarga tak mampu, seketika menjadi pasangan yang dibanggakan keluarga karena usaha mereka berkembang. ”Bayangin aja, yang dulu punya uang sejuta aja susah, eh megang uang puluhan juta,” kata Sueb.

Mereka membelanjakan penghasilan dari usaha itu mengutamakan kepentingan keluarga masing-masing, mengajak jalan-jalan, belanja, dan renovasi rumah.

Setelah kebutuhan keluarga mulai terpenuhi, barulah mereka mencukupi kebutuhan keduanya dengan mengkredit rumah di perumahan elit dan mewah, membeli kendaraan motor dan barang-barang lainnya.

Awalnya kehidupan mereka baik-baik saja. Tapi yang namanya hidup di masyarakat, tentu tak terlepas dari cobaan, ada saja orang yang iri dengan kemajuan bisnis keduanya, salah satunya tetangga.

Omongan-omongan tak mengenakan seolah sudah menjadi makanan sehari-hari yang mereka dengar dari tetangga. Hubungan bermasyarakat keduanya mulai tak harmonis.

”Masa kita dibilang enggak pantes tinggal di perumahan itu, katanya maksainlah, apalah,” tukas Sueb saat curhat kepada Radar Banten melalui sambungan telepon, Rabu (28/9).

Hingga suatu hari, si tetangga itu membeli mobil baru, diparkirnya di depan jalan dekat rumah Sueb dan Siti, makin panaslah hati mereka.

Karena tak tahan, sebulan kemudian Siti minta beli mobil yang lebih mewah, awalnya Sueb menolak karena keuangan mereka belum tentu cukup menutup semua setoran per bulan.

Tapi karena Siti terus memaksa, Sueb pun menurutinya dan datanglah mobil mewah mereka. Bulan pertama, kedua dan ketiga masih aman.

”Tapi pas masuk bulan ke empat, modal usaha kepake terus buat setoran, makin payah sampai enggak kebeli bahan jahitan,” katanya.

Lama-kelamaan pelanggan mereka pindah tempat karena pesanan sering tak tersedia. Hal itu pun berpengaruh besar pada penghasilan, karyawan pun sampai tak terbayar.

Usaha konveksi mereka bangkrut, mobil ditarik leasing, setoran rumah pun mandek. Alhasil, setiap hari mereka selalu adu mulut saling menyalahkan. ”Saya enggak tahu lagi harus gimana, cuma bisa pasrah,” kata Sueb.

Ya ampun, sabar ya Kang. (drp)