DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

KPJ Fokus Pemberdayaan Ekonomi

post-img

LEBAK - Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Rangkasbitung tengah fokus dalam program pemberdayaan ekonomi.

Ketua KPJ Rangkasbitung Achmad Lugas Kusnadi mengatakan, program tersebut untuk menopang kesejahteraan anggota KPJ agar dapat tetap eksis dan terus meng­ayomi para seniman jalanan.

Karena menurutnya, kegiatan KPJ dalam mem­bina anak jalanan membutuhkan anggaran. 

“Kita itu orang-orang yang kurang pintar da­lam menyusun proposal, makanya kita berniaga. Kita jualan lagu, kita jualan lukisan, kita jualan karya-karya kita. Kita nggak mau minta-minta, adapun bantuan-bantuan atau program itu kita sebut rezeki,” ujar Ugas sapaan akrabnya saat berbincang dengan Radar Banten, kemarin.

Adapun bisnis yang kini tengah digarap KPJ, ialah dengan menyewakan atau ren­tal alat musik, sound system, dan juga pe­sanan lagu. Ugas mengaku kerap men­da­patkan pesanan lagu bahkan dari luar wilayah Kabupaten Lebak.

“Kita itu sebetulnya sudah seperti cowo panggilan, dimana ada yang memanggil, kita manggung, kita melukis, dan kita mem­buat lagu. Dulu kita juga buat lagu so­sialisasi orderan Pemilu Komisi Pe­milihan Umum (KPU) Karawang dan membuat lagu untuk Jokowi melalui DPC Mulyadi Jayabaya (JB),” kata Ugas.

Membuat lagu sendiri, kata Ugas, sudah menjadi hobi. Bahkan dirinya membuat lagu untuk menyentil berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai memberatkan rakyat.

Seperti lagu tentang krisis minyak goreng yang menghebohkan masyarakat di Indonesia. Ugas, menuliskan keluh keras dirinya dan masyarakat lainnya mengenai krisis minyak goreng itu menjadi suatu lagu yang berjudul ‘Minyak Goreng Hilang Ditelan Bumi’. 

Dalam lagu baru ciptaannya, Ugas ber­tanya-tanya kenapa minyak goreng mahal dan langka, padahal Indonesia penghasil sawit terbesar di dunia.

“Pada krisis itu kita rasakan. Kita lihat secara langsung kisruh yang ditimbulkan di tengah Pandemi Covid-19. Krisis itu se­akan-akan semakin membuat masya­rakat susah, makanya kita buatkan lagu yang menyuarakan suara rakyat yang tidak menggoreng makanan. Dengan ha­ra­pan, pemerintah bisa dengan serius me­nangani krisis itu,” kata Ugas.

Bukan hanya soal minyak goreng, Ugas dan rekan-rekannya juga pernah membuat lagu tentang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dirilis pada 2012. Melalui lagu itu, Ugas menyentil peme­rintah tentang kenaikan BBM pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Dan kita harap, melalui lagu-lagu yang meng­kritik, pemerintah dapat mende­ngar­kan keluh kesah rakyat terhadap kebijakan yang mereka buat,” ujarnya.

Dirinya berharap eksistensi KPJ Rang­kasbitung pada dunia seniman ini dapat berdampak positif dan bahkan bisa meng­ayomi para seniman jalanan di Bumi Multatuli.

Terakhir, Ia juga selalu menekankan ke­pada para seniman dan anak jalanan untuk membuat kehidupan yang lebih layak melalui karya-karya mereka, seperti berniaga dengan menjual hasil karya lukisan maupun membuat lagu dan lain-lainnya. Karena menurutnya, berniaga merupakan suatu profesi yang bermartabat dan sudah dianjurkan Rasulullah SAW.

“Di KPJ, kita larang tuh yang namanya alkohol dan aksi kejahatan. Kita minta mereka meninggalkan itu ketika ber­gabung dalam KPJ, karena kita tahu sen­diri alkohol dapat memberikan pe­ngaruh tidak baik. Kita minta anggota untuk berdiskusi dan berkarya. Kita me­minta mereka untuk berniaga sesuai de­ngan sunnah Rasulullah,” pungkasnya. (mg-02/tur)