PANDEGLANG - Perajin batik dari Sanggar Batik Cikadu di Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang, telah memiliki sertifikat dari Badan Sertifikasi Nasional (BSN). Mereka sudah mengikuti uji kompetensi yang dilaksanakan Kementerian Perindustrian di Semarang, Jawa Tengah.
Ketua Sanggar Batik Cikadu Amsari mengatakan, ada delapan orang pembatik Sanggar Batik Cikadu yang sudah bersertifikasi.
"Terdiri dari pembatik tulis sebanyak 6 orang dan dua orang batik cap. Jadi ada 8 orang pembatik yang sudah mengikuti Uji Kompetensi Profesi (UKP)," katanya kepada Radar Banten di Sanggar Batik Cikadu, Rabu (29/6).
Dijelaskannya, kegiatan UKP dilaksanakan pemerintah pusat di pusat batik nasional di Jawa Tengah. Program tersebut diikuti perajin batik dari berbagai daerah di Indonesia.
"Untuk Banten, diikuti pembatik dari Sanggar Cikadu. Alhamdulilah semua pembatik lulus setelah diuji oleh akademisi dan praktisi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP)," ujarnya.
Amsari menilai, banyaknya pembatik dari Sanggar Batik Cikadu yang bersertifikasi menjadi kabar gembira bagi Pandeglang. Sebab kemampuan pembatik Cikadu sudah profesional atau setara dengan pembatik dari daerah yang lain.
"Seperti halnya pembatik Solo, Yogyakarta, Cirebon, Semarang, dan daerah lainnya. Kita tentu sangat bersyukur dari segi kemampuan sudah setara dengan mereka," jelasnya.
Saat uji sertifikasi, peserta tidak hanya diuji kemampuan menggunakan canting batik dan juga cap batik. Tetapi diuji juga pengetahuan akan batik.
"Alhamdulillah ujian itu dapat dilewati dengan lancar. Tinggal sekarang bagaimana hasil produksi Batik Cikadu bisa berkembang dengan baik," harapnya.
Pada masa pandemi Covid-19 yang lalu, usaha batik terpukul karena sepinya pembeli. Kalau saat normal omset per bulannya mencapai jutaan rupiah.
"Omset didapat cukup untuk menggaji karyawan dan beli bahan bakunya. Harapannya ke depan tidak ada lagi pandemi dan hasil perajin Batik Cikadu makin dikenal, diminati, dan makin maju serta berkembang," katanya.
Menurutnya, Sanggar Batik Cikadu memproduksi baju jadi, sapu tangan, syal, ikat kepala, slop atau sepatu perempuan, tas, dompet, selendang, masker, kerudung, dan taplak meja.
"Untuk omset sekarang belum begitu normal swjak pandemi Covid-19," ungkap Amsari.(mg-01/tur)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GAN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
