SERANG-Jelang Pemilu 2024, para kepala daerah rentan melakukan kampanye terselubung dengan membuat kebijakan populis untuk kepentingan 2024.
Hal itu diungkapkan pengamat politik dan kebijakan publik Unsera, Ahmad Sururi, menyikapi polemik terkait rencana Pemkab Pandeglang melakukan pengadaan sepeda listrik untuk RT/RW pada tahun anggaran 2023.
“Kebijakan Bupati Pandeglang yang bersikukuh mengalokasikan anggaran untuk pengadaan sepeda listrik bagi RT dan RW, merupakan kebijakan populis yang terkorelasi dengan kepentingan 2024,” kata Sururi kepada Radar Banten, Senin (29/8).
Ia melanjutkan, dalam perspektif politik kebijakan pembangunan, setiap pemimpin akan cenderung mengambil kebijakan populisme. Hanya persoalannya apakah kebijakan Bupati Pandeglang tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau tidak. Hal ini yang perlu dilihat secara komprehensif.
“Wajar bila kebijakan tersebut mendapat banyak kecaman dari mahasiswa, aktivis Pandeglang maupun tokoh masyarakat. Sebab kebijakannya berbau offside, lantaran anggaran puluhan miliar tidak langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” bebernya.
Di sisi lain, kata Sururi, tantangan kebijakan populis seperti mengalokasikan anggaran untuk pengadaan sepeda listrik bagi RT dan RW se- Kabupaten Pandeglang tersebut, harus mempertimbangkan APBD Kabupaten Pandeglang berkelanjutan, yang juga harus fokus pada infrastruktur jalan.
“Bagaimana dampak dan manfaatnya bagi masyarakat Pandeglang, apakah serta merta dengan diberikannya sepeda listrik maka RT dan RW se- Kabupaten Pandeglang akan produktif dan mampu meningkatkan daya saing Pandeglang. Siapa yang menjamin itu semua,” tuturnya.
Sururi menyarankan kepala daerah untuk memprioritaskan kebutuhan masyarakat dalam setiap kebijakan yang diambilnya.
“Apalagi masyarakat kita sedang mencoba bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi. Setiap kebijakan yang berbau offside pasti akan menuai kecaman dan bikin gaduh. Jangankan kebijakan sepeda listrik, kebijakan Pj Gubernur Banten tentang sekolah metaverse ujungnya hanya menimbulkan kegaduhan ditengah masyarakat,” pungkasnya.
Senada, anggota DPRD Banten daerah pemilihan (dapil) Kabupaten Pandeglang Yoyon Sujana menilai, kebijakan Bupati Pandeglang melakukan pengadaan sepeda listrik untuk RT/RW pada tahun anggaran 2023 senilai Rp38 miliar bukan hal yang mendesak yang dibutuhkan masyarakat Pandeglang.
“Sebaiknya selesaikan dulu pembangunan infrastruktur jalan rusak yang ada di Kabupaten Pandeglang. Bila jalannya sudah bagus semua, silakan RT/RW belikan sepeda listrik. Jika perlu langsung belikan sepeda motor juga tidak masalah,” ungkapnya.
Politikus Demokrat ini melanjutkan, kinerja RT/RW se- Kabupaten Pandeglang memang patut diberikan apresiasi oleh Pemkab Pandeglang, namun tidak tepat bila bentuk apresiasinya dengan pembelian sepeda listrik.
“Saya mendukung kinerja RT/RW diapresiasi, karena sudah bekerja untuk masyarakat Pandeglang. Tapi pembelian sepeda listrik ini yang tidak tepat. Sepeda motor saja sulit digunakan di jalan rusak, apalagi sepeda listrik,” bebernya.
Agar polemik pengadaan sepeda listrik tidak berlarut-larut, Yoyon berharap Bupati Pandeglang membatalkan rencana pengadaan sepeda listrik tersebut.
“Saya tidak urusan mau ada kepentingan politik 2024 atau tidak. Yang jelas sepeda listrik tidak tepat selama infrastruktur jalan di Pandeglang masih banyak yang rusak. Lebih baik kebijakannya diganti dengan pengadaan smartphone untuk RT/RW. Selain lebih hemat anggaran, fungsinya juga cukup signifikan dalam menunjang kinerja RT/RW,” pungkasnya.
Sebelumnya, aktivis penggiat antikorupsi asal Kabupaten Pandeglang Uday Suhada mengecam kebijakan pengadaan sepeda listrik yang digagas Bupati Pandeglang. Menurutnya anggaran Rp38 miliar lebih bermanfaat jika digunakan untuk peningkatan pelayanan kesehatan rakyat atau pembangunan infrastruktur jalan rusak.
“Saya mengendus kebijakan ini terkait dengan kepentingan 2024. Sebab secara serempak disetiap kecamatan sudah dibentuk Paguyuban RT dan RW. Semua data base RT/RW dikumpulkan di kecamatan. Mereka tak ubahnya seperti kerbau dicocok hidungnya. Dalam pandangan saya, itu strategi politik yang membodohi rakyat,” tuturnya.
Uday yang juga menjabat Direktur Eksekutif Aliansi Lembaga Independen Peduli Publik (ALIPP) itu melanjutkan, selain sarat kepentingan politik 2024, pengadaan sepeda listrik untuk RT/RW juga sarat kepentingan ekonomi.
“Anggaran Rp38 miliar untuk pengadaan sepeda listrik, lebih besar dari dana bantuan keuangan (bankeu-red) Provinsi Banten untuk Kabupaten Pandeglang membangun infrastruktur. Itu uang rakyat yang tidak sedikit. Lucunya, gelagatnya anggaran itu akan dititipkan di setiap kecamatan diduga kuat untuk mengelabui publik dan APH (aparat penegak hukum),” katanya.
“Saya merasa malu punya pemimpin yang punya kebijakan semacam ini. Kita sudah kehilangan akal sehat, uang rakyat yang Rp38 miliar itu akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk peningkatan pelayanan kesehatan rakyat,” tambahnya.(den-mg01/nda)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
