PRODUKSI: Pengrajin tahu sedang melakukan pengolahan kedelai di tempat produksi miliknya di Rangkasbitung, kemarin. (Yusuf/Radar Banten)
LEBAK-Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) telah berdampak terhadap produksi tahu dan tempe di Lebak. Karena harga bahan baku kedelai mengalami kenaikan, sehingga memberatkan bagi pengrajin tahu dan tempe.
Madsoleh, pengrajin tahu di Kampung Muhara, Kelurahan Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung mengatakan, produksi tahu turun akibat naiknya harga kedelai yang terdampak kenaikan BBM.
Saat ini, harga kedelai menyentuh Rp 645.000 per 50 kilogram. Harga itu naik Rp 25.000 dibandingkan bulan Agustus, yakni hanya Rp 620.000.
“Saya kan beli kedelainya itu karungan, 1 karungnya 50 kilogram dan itu harganya Rp 645.000. Untuk harga kedelai tentunya itu sudah sangat tinggi,” kata Madsoleh kepada wartawan, Kamis (29/9).
Untuk itu, dirinya hanya bisa mengolah 1 karung kedelai saja. Padahal sebelum kenaikan harga BBM, Dia bisa mengolah 2 karung lebih atau sekitar 100 kilogram.
Menurutnya, kenaikan harga kedelai telah merugikan para pengrajin tahu. Jika bahan baku naik, maka pengrajin pun menyiasati ukuran tahu yang dibuatnya agar tidak merugi.
“Harga di pasaran sekarang cuma Rp 5.000, engga naik. Padahal bahan bakunya naik, ya sudah kita terpaksa mengurangi ukurannya supaya biaya pengeluaran kedelai tidak terlalu banyak,” ucapnya.
Madsoleh mengungkap, dirinya tidak bisa menaikan harga tahu, sebab konsumsi masyarakat terhadap tahu sedang menurun. Hal itu tentunya berdampak pada jumlah pendapatan atau omset pengrajin tahu dan tempe di Rangkasbitung.
“Kalau kita naikan harganya siapa yang mau beli. Orang Rp 5.000 sekantong saja masih dikatain mahal. Sekarang, omset kita saja lagi turun, yang biasanya dapat Rp 300 ribu per hari sekarang cuma Rp150 ribu,” ungkapnya.
Pengrajin tempe, Abdul mengatakan, pemerintah harus segera mencari cara untuk mencegah kenaikan harga kedelai. Pasalnya, jika harga tersebut terus tinggi maka akan menyebabkan industri tahu, tempe atau makanan berbahan dasar kedelai lainnya gulung tikar.
“Kedelai itu kan adik kaka sama beras, yang mana kalau harganya naik industri tahu, tempe bisa bangkrut. Kalau sudah bangkrut rakyat mau makan apa nanti,” kata Abdul.
Menurutnya, kenaikan harga kedelai disebabkan kurangnya ketersediaan kedelai di pasaran. Para petani kedelai di Indonesia sendiri dinilai masih belum bisa mencukupi kebutuhan kedelai di tanah air.
Untuk itu, dirinya meminta agar Kementerian Pertanian dapat melakukan upaya nyata dengan memaksimalkan produksi kedelai guna menstabilkan harga di pasaran.
“Itu yang menjadi kesalahan Menteri saat ini. Kita terus bergantung dengan Impor kedelai dari luar negeri. Padahal potensi di dalam negeri sangat kaya. Seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya,” katanya.
Ia berharap harga kedelai dapat kembali stabil dan terjangkau oleh para pengrajin tahu dan tempe. “Kita harap harganya kembali stabil, karena kalau seperti ini bisa bangkrut. Di Lebak sendiri hampir 70 persen pengrajin tahu dan tempe memilih berhenti berproduksi dibandingkan terus merugi,” pungkasnya. (mg-02/tur)
Banten Hari Ini
- Utama
- Kab Serang
- Radar Serang
- Pandeglang
- Lebak - Viral
- Tangerang - Viral
- Olahraga
- Hukrim
- Love Story - Inspirasi
- Bisnis - Peluang Usaha
- Sambungan
- Cilegon
- Trendy
- Proud
- Cover Story
- Pesona Indonesia
- Legacy
- Kelurahan
- 18 PLUS
- MAMMY WOW
- ADVERTORIAL WARNA
- LRLA KOTA SERANG
- ADVERTORIAL BW
- KESEHATAN
- DP3AP2KB Kota Cilegon
- RADAR TRAVEL
- LPPD Tangerang
- 18 PLUS+
- ADV Pemkab Tangerang
- MOVIES
- PUPR LEBAK
- ADV PEMKAB PANDEGLANG
- GEN RB
- Serba Serbi Ramadan
- ADV PEMKAB PANDEGLANG 2
- HOBBY
- RAKYAT MEMILIH
- Potret Cilegon
- VIRAL
- LKBA Kabupaten Serang
- Academia Untirta
- INFO BHAYANGKARA
- INFO ADHYAKSA
