DECEMBER 9, 2022
Lebak - Viral

Kedelai Naik, Produksi Tahu Tempe Menurun

post-img

PRODUKSI: Pengrajin tahu sedang melakukan pengolahan kedelai di tempat produksi miliknya di Rangkasbitung, kemarin. (Yusuf/Radar Banten)

LEBAK-Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) telah berdampak ter­hadap produksi tahu dan tempe di Lebak. Karena harga bahan baku ke­delai mengalami kenaikan, se­hingga memberatkan bagi pengrajin tahu dan tempe.

Madsoleh, pengrajin tahu di Kam­pung Muhara, Kelurahan Muara Ci­ujung Barat, Kecamatan Rang­kas­bitung mengatakan, produksi ta­hu turun akibat naiknya harga kedelai yang ter­dampak kenaikan BBM.

Saat ini, harga kedelai menyentuh Rp 645.000 per 50 kilogram. Harga itu naik Rp 25.000 dibandingkan bulan Agustus, yakni hanya Rp 620.000.

“Saya kan beli kedelainya itu ka­ru­ngan, 1 karungnya 50 kilogram dan itu harganya Rp 645.000. Untuk har­ga kedelai tentunya itu sudah sangat tinggi,” kata Madsoleh kepada wartawan, Kamis (29/9).

Untuk itu, dirinya hanya bisa meng­olah 1 karung kedelai saja. Padahal sebelum kenaikan harga BBM, Dia bisa mengolah 2 karung lebih atau sekitar 100 kilogram.

Menurutnya, kenaikan harga kedelai telah merugikan para pengrajin tahu. Jika bahan baku naik, maka pengrajin pun menyiasati ukuran tahu yang di­buatnya agar tidak merugi. 

“Harga di pasaran sekarang cuma Rp 5.000, engga naik. Padahal bahan bakunya naik, ya sudah kita terpaksa mengurangi ukurannya supaya biaya pe­ngeluaran kedelai tidak terlalu ba­nyak,” ucapnya.

Madsoleh mengungkap, dirinya ti­­dak bisa menaikan harga tahu, se­­­bab konsumsi masyarakat terhadap ta­hu sedang menurun. Hal itu ten­tunya berdampak pada jumlah pen­da­patan atau omset pengrajin tahu dan tempe di Rangkasbitung.

“Kalau kita naikan harganya siapa yang mau beli. Orang Rp 5.000 se­kantong saja masih dikatain mahal. Sekarang, omset kita saja lagi turun, yang biasanya dapat Rp 300 ribu per hari sekarang cuma Rp150 ribu,” ungkapnya.

Pengrajin tempe, Abdul menga­ta­kan, pemerintah harus segera men­cari cara untuk mencegah ke­naikan har­ga kedelai. Pasalnya, jika harga ter­sebut terus tinggi maka akan me­nyebabkan industri tahu, tempe atau makanan berbahan dasar kedelai lainnya gulung tikar.

“Kedelai itu kan adik kaka sama be­ras, yang mana kalau harganya naik industri tahu, tempe bisa bang­krut. Kalau sudah bangkrut rakyat mau makan apa nanti,” kata Abdul.

Menurutnya, kenaikan harga kedelai disebabkan kurangnya ketersediaan kedelai di pasaran. Para petani kedelai di Indonesia sendiri dinilai masih belum bisa mencukupi kebutuhan kedelai di tanah air.

Untuk itu, dirinya meminta agar Ke­men­terian Pertanian dapat mela­kukan upaya nyata dengan memak­simalkan produksi kedelai guna menstabilkan harga di pasaran. 

“Itu yang menjadi kesalahan Men­teri saat ini. Kita terus bergantung de­ngan Impor kedelai dari luar ne­geri. Padahal potensi di dalam negeri sangat kaya. Seharusnya diman­faat­kan sebaik-baiknya,” katanya.

Ia berharap harga kedelai dapat kem­­bali stabil dan terjangkau oleh para pengrajin tahu dan tempe. “Kita harap harganya kembali stabil, karena kalau seperti ini bisa bangkrut. Di Lebak sendiri hampir 70 persen peng­rajin tahu dan tempe memilih berhenti ber­produksi dibandingkan terus me­rugi,” pungkasnya. (mg-02/tur)