DECEMBER 9, 2022
Love Story - Inspirasi

Enggak Nurut Omongan Suami, Ya Ditinggal Pergi

post-img

Sueb (35), nama samaran, sudah habis kesabaran menghadapi sikap Wiwi (34) bukan nama sebenarnya. Bagi Sueb, daripada bertahan dengan istri yang sudah tak nurut omongan suami, ia pilih cari istri lagi.

Ditemui Radar di warung es kelapa miliknya di Kecamatan Ciruas, Selasa (30/8) siang, Sueb sedang santai minum kelapa. Sambil ditemani mengobrol, ayah satu anak ini bercerita soal pengalamannya berumah tangga.

Diceritakan Sueb, istri yang sekarang ada di rumah ialah istri kedua. Istri pertamanya alias Wiwi sudah dua tahun lalu bercerai. “Kalau saya mah enggak mau ribet, kalau sudah enggak nurut mah ngapain dilanjutin,” tukas Sueb.

Diceritakan Sueb, perjumpaannya dengan Wiwi terjadi saat ada acara kepemudaan yang diselenggarakan dari dinas pemerintahan. Sueb terpesona dengan kecantikan Wiwi. “Pas lihat pertama kali, wah bikin saya deg-degan,” katanya.

Bukan cuma wajahnya yang cantik, tapi Wiwi juga punya bodi yang aduhai. Maklumlah, katanya sih, Wiwi memang rajin perawatan di salon. “Beuh ternyata biaya perawatannya memang mahal,” ungkapnya.

Sueb sendiri yang saat itu masih bekerja di Pabrik, setiap tanggal muda, uang gajihannya selalu menipis, jangankan buat menabung, buat membeli rokok saja terkadang habis.

Singkat cerita, setelah enam bulan pacaran, mereka pun memutuskan menikah. Pesta pun digelar meriah. Banyak tamu undangan datang. “Alhamdulillah tamu mah banyak yang dateng,” ungkapnya.

Setelah menikah, mereka tinggal di rumah sendiri. Mengambil cicilan rumah di perumahan di Kecamatan Kragilan, awalnya mereka masih harmonis. Maklumlah pengantin baru. “Biasa, makan juga masih disuapin,” katanya.

Setahun kemudian, mereka mengambil cicilan mobil, agar ke mana-mana tidak kepanasan atau kehujanan. Kebutuhan makin bertambah, penghasilan Sueb sebagai karyawan pabrik dan punya usaha konter pulsa, amat sangatlah pas-pasan.

“Tapi kan semua buat istri, biarin saya mah kerja banting tulang yang penting istri senang,” katanya.

Di tahun ketiga rumah tangga mereka dikaruniai anak, hubungan semakin harmonis. Tapi karena kebutuhan juga bertambah, Sueb terpaksa harus menjual mobilnya agar mengurangi pengeluaran bulanan.

Tapi rencana itu batal karena Wiwi tak setuju, Sueb pun masih sabar dan menurut, tapi ia minta agar Wiwi bisa berhemat untuk bisa mencukupi segala kebutuhan.

“Tapi bukannya hemat, dia malah sering ke salon, makan di kafe, ikut arisan, sampai beli baju segala macem,” katanya.

Sueb sering menasehati tapi Wiwi tetap tak berubah, apalagi sejak bisa membawa mobil, ia sering pergi foya-foya dan menitipkan anak di rumah ibunya.

Akibatnya, Sueb terlilit hutang sampai harus rela menjual toko konter pulsanya. Ia hanya mengandalkan penghasilan dari bekerja, akhirnya terjadilah keributan yang berujung perceraian.

“Alhamdulillah istri saya yang baru bisa lebih ngerti keadaan suami,” ungkapnya. (drp)