DECEMBER 9, 2022
Radar Serang

38 SD Diperbaiki, 10 Sekolah Masih Rusak Berat

post-img

REHABILITASI: Sejumlah pekerja memperbaiki ruang kelas di SDN Kebaharan 1 Kota Serang, Kamis (29/10).

 

SERANG – Pemerintah Kota Serang memperbaiki 38 Sekolah Dasar (SD) sepanjang 2026. Rehabilitasi sekolah ini masih menyisakan 10 gedung SD yang rusak berat. Keterbatasan anggaran membuat perbaikan 10 gedung SD itu ditargetkan rampung pada 2027.

 melalui pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Meski demikian, sekitar 10 sekolah masih masuk kategori rusak berat dan ditargetkan selesai ditangani pada 2027.

 Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang Zeka Bachdi mengatakan, perbaikan gedung sekolah tahun ini mencakup rehabilitasi bangunan hingga pembangunan fasilitas baru. Penanganan dilakukan secara bertahap, sesuai tingkat kerusakan dan ketersediaan anggaran.

“Yang rusak berat itu sekitar 10 sekolah. Alhamdulillah, Pak Walikota sangat konsen soal mebeler, jadi setiap anggaran murni maupun perubahan ada pengadaan untuk menuntaskan itu,” ujar Zeka, Kamis (29/10).

Ia menargetkan, seluruh sekolah dengan kondisi bangunan rusak berat dapat ditangani pada tahun 2027. Setelah itu, perbaikan akan dilanjutkan ke sekolah dengan tingkat kerusakan sedang dan ringan.

Sektor pendidikan di Kota Serang juga mendapat bantuan 835 unit smart tv dari Pemerintah Pusat. Perangkat itu direncanakan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar berbasis digital di sekolah penerima.

Setiap sekolah penerima ditargetkan mendapatkan tiga unit perangkat smart tv. Bantuan ini diharapkan dapat menunjang proses pembelajaran, sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi di lingkungan sekolah.

Salah satu sekolah yang tengah menjalani rehabilitasi adalah SDN Kebaharan 1 Kota Serang. Bangunan yang tua membuat sejumlah bagian sekolah rusak, dari atap bocor hingga jendela yang lapuk.

Guru Kelas IV SDN Kebaharan 1 Yuyun mengatakan, kondisi sekolahnya memprihatinkan sebelum direhabilitasi. Lantai dan jendela, katanya, juga sudah rusak.

“Keramik lantai sudah menghitam, dipel kayak apa juga tetap kelihatan kusam karena sudah lama. Jendela-jendelanya malah sudah mau copot dimakan rayap,” tutur Yuyun.

Menurutnya, rehabilitasi besar-besaran di sekolahnya diperkirakan terakhir dilakukan pada era 1980-an. Saat ini, proyek perbaikan sekolahnya dimulai sejak Agustus 2026 dan ditargetkan rampung pada Desember 2026.

Selama proses pembangunan, jelas Yuyun, kegiatan belajar mengajar sempat terkendala keterbatasan ruang kelas. Pihak sekolah harus mengatur kegiatan pembelajaran menjadi tiga sesi. Yakni, pukul 07.00 WIB, puku; 10.00 WIB, dan pukul 12.00 WIB.

Kondisi itu membuat sekolah perlu menyesuaikan jadwal pembelajaran agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung di tengah pengerjaan rehabilitasi. Pengaturan waktu menjadi salah satu cara yang ditempuh untuk mengatasi keterbatasan ruangan sementara.

Yuyun berharap, pemerintah dapat menambah ruang kelas baru setelah rehabilitasi selesai. Saat ini, SDN Kebaharan 1 hanya punya tujuh ruangan. Sedangkan, kebutuhan rombongan belajar masih memerlukan tambahan tiga kelas agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih ideal. (nrl/don)